Jaim

Entah kapan istilah jaim ini mulai marak digunakan. Kepanjangan dari kata ini adalah jaga image dan sering kali saya asosiasikan secara negatif dengan orang-orang yang angkuh, uptight, dan tidak down-to-earth.

Selama ini saya selalu menganggap orang-orang yang kelewat jaim ini nggak ada asik-asiknya karena mereka terlalu mementingkan citra diri dan tidak mau dipandang buruk oleh orang lain. Contohnya, Mas X selalu menolak untuk makan di warteg dan lebih memilih untuk makan di restoran mahal supaya tidak dicap kampungan. Contoh lain, Jeng Y maunya hanya menggunakan barang-barang bermerek agar tidak kehilangan muka di kalangan para sosialita di lingkungan pergaulannya. Tidak peduli kartu kreditnya nyaris diblokir karena dia tidak sanggup membayar cicilan. Duh, jaga image ternyata susah sekali. Modalnya besar… Belum lagi capeknya untuk memikirkan gimana caranya supaya orang lain terus-terusan terkesan.

Untuk diri saya sendiri, saya juga terlalu malas pragmatis untuk harus kerja keras menjaga image. Daripada susah-susah khawatir memikirkan apa pendapat orang lain tentang diri kita, saya lebih memilih menjadi orang yang easy-going. Pakai baju nyaman daripada pakai gaun yang ribet, bawa tas punggung daripada handbag, pakai sepatu kets daripada high heels. Mumpung kemana-mana lebih sering sendirian (bukan kode) lebih senang naik kendaraan umum. Makanya, saya ngefans banget sama Trans Jakarta dan KRL apalagi kalau lagi sepi dan sejuk AC-nya berasa. Hehehe…

Anyhoo, beberapa hari yang lalu saya inspect rumah. Kebetulan tempatnya di Tangerang Selatan, dekat dengan stasiun Sudimara. Sudah lama saya berharap kalau punya rumah nanti yang lokasinya gampang diakses oleh kendaraan umum supaya bisa berkontribusi untuk mengurangi kemacetan dan polusi. Makanya saya cukup excited ketika diberitahu bahwa lokasi rumah ini hanya 5 menit jalan kaki dari stasiun. Perfect.

Long story short, rumahnya tidak sesuai dengan apa yang saya perkirakan. Lokasi memang strategis, tapi banyak sekali faktor lain yang kurang sesuai dengan kriteria saya, seperti jalan akses yang lumayan sempit untuk dilalui mobil, fakta bahwa rumah ternyata masih setengah jadi, status kepemilikan properti yang tidak jelas, dst dsb. Oleh karena itu saya sampaikan ke agen bahwa saya masih belum cocok, barangkali mas agen punya info properti lain di kawasan ini mungkin saya bisa dikasihtau. Si mas agen lantas menganggapi bahwa  rumah ini rumah terbaik di sekitar stasiun Sudimara yang bisa saya dapatkan dengan anggaran rendah, rumah-rumah lain tidak mungkin dilepas dengan harga tersebut. “Kalau mbak maunya yang murah dan dekat stasiun Sudimara ya rumah ini.”

%$#(0(^%$%!@*

Saya bukan ingin dipandang sebagai orang kaya raya, tapi saya nggak suka dianggap remeh. Ini dua hal yang berbeda. Untungnya saya masih bisa mengendalikan diri supaya nggak berantem dengan si agen.

Masih sedikit dongkol ketika saya cerita pada teman dekat saya G. Dengan entengnya dia bilang, coba kalau kamu bawa kendaraan sendiri, nggak kelihatan kumus-kumus keringatan habis jalan kaki dari stasiun, mungkin dia nggak bakal ngeremehin kamu.

I was speechless. Ketabok. Kata-kata G ada benarnya.

Ternyata jaga image itu ada gunanya.

Advertisements

4 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s