Tasmania #4: Queenstown & Cradle Mountain

Setelah tiga hari berhadapan dengan cuaca yang murung, akhirnya pada hari keempat kami disambut oleh cerahnya langit dan cahaya matahari. Sebelum meluncur kembali ke jalan raya, sebagaimana hari-hari sebelumnya, kami mampir ke toko swalayan terdekat untuk menyiapkan perbekalan. Selama beberapa hari ini, keripik kentang, roti dan biskuit menjadi kawan setia di tengah perjalanan, penyelamat di kala kelaparan. Ini juga yang menjadi saya kangen dengan Indonesia: pedagang makanan gampang sekali ditemui.

Queenstown

Setelah berbelanja, kami menyempatkan diri untuk berhenti sejenak menikmati suasana kota Queenstown. Kota kecil ini terletak di pesisir barat pulau Tasmania dan jumlah penduduknya kurang dari 2000 jiwa. Jalanan sangat lengang, hampir tidak ada orang yang lewat selain beberapa orang di sekitar SPBU dan supermarket kecil yang sebelumnya kami datangi. Mungkin juga karena saat itu hari Minggu sehingga orang-orang banyak yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah.

Queenstown sebelumnya adalah kota tambang pertambangan. Pada abad ke-19 kawasan ini berkembang karena orang-orang tertarik untuk menambang emas dan tembaga, tapi sekarang kegiatan penambangan sudah tidak ditemui lagi sejak perusahaan tambang utama di kota tersebut ditutup. Meskipun demikian, jejak-jejak sejarah pertambangan kota Queenstown masih bisa dilihat dari beberapa monumen yang dibangun di pusat kota, dan sebuah stasiun kereta api yang kini sudah ditutup. Sebelumnya, jalur kereta api menghubungkan Queenstown dengan kota Strahan.

 

Cradle Mountain

Dari Queenstown, kami melanjutkan perjalanan ke Cradle Mountain. Cradle Mountain merupakan salah satu bagian dari Cradle Mountain-Lake St. Clair National Park yang terletak di sisi utara. Di tengah perjalanan kami juga mampir di Black Bluff Nature Recreational Area dimana kami bisa melihat panorama berupa padang luas dan sungai di kejauhan dari atas bukit.

Sebagaimana taman nasional lainnya, Cradle Mountain memiliki visitor centre yang sekaligus berfungsi sebagai gerbang masuk. Para pengunjung yang membawa kendaraan pribadi memarkir mobilnya di sekitar visitor centre karena berlaku sistem buka tutup di jalan menuju Dove Lake. Kebijakan ini diberlakukan karena jalan menuju Dove Lake tidak seberapa lebar dan lahan parkir yang disediakan tidak terlalu luas. Biasanya, jalur untuk kendaraan pribadi akan ditutup apabila lahan parkir di Dove Lake penuh.

Meskipun demikian, pihak pengelola tempat sudah menyediakan beberapa shuttle bus yang datang tiap dua puluh menit untuk mengangkut pengunjung menuju site-site yang disediakan.

Ada beberapa site yang bisa dikunjungi oleh wisatawan, tergantung pada waktu yang mereka alokasikan. Pengunjung yang hanya memiliki waktu beberapa jam sebelum bertolak ke tempat lain, seperti kami, bisa langsung menuju Dove Lake untuk melihat dari dekat puncak Cradle Mountain. Sementara itu, pengunjung yang punya waktu beberapa hari bisa berkemah atau bahkan mendaki ke hingga ke puncak gunung.

Dari dekat, puncak Cradle Mountain ini, sesuai namanya, memang tampak seperti buaian bayi. Ada banyak walking track yang bisa dipilih untuk bisa melihat Cradle Mountain dan Dove Lake dari beberapa sudut pandang. Dibandingkan dengan objek wisata yang kami kunjungi di hari-hari sebelumnya, Cradle Mountain ini bisa dibilang jauh lebih ramai pengunjung terutama wisatawan yang berasal dari Asia. Hal ini tidak mengherankan karena Cradle Mountain adalah salah satu objek wisata utama di Tasmania.

Dari Cradle Mountain, kami bertolak ke Launceston untuk bermalam di sana.

-tubikontinyu-

Advertisements

22 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s