Tasmania #3: Mount Field National Park & Lake St. Clair

Hari ketiga kami di Hobart/Tasmania dimulai dengan sedikit bencana. Di pagi hari saat sedang bersiap-siap, kami baru tahu kalau spion mobil dirusak orang. Spion sebelah kanan patah sementara kaca spion sebelah kiri raib. Kejadian ini lumayan mengejutkan dan sangat diluar dugaan karena selama sekitar enam bulan tinggal di sini bisa dibilang negara ini sangat aman dan vandalisme cukup minim. Pertimbangan tersebut juga lah yang mendasari keputusan kami untuk tidak menambah asuransi saat menyewa mobil. Talking about bad luck

Sempat terbersit rasa khawatir kalau rencana melanjutkan perjalanan ke utara bakal terancam, karena tidak mungkin kami pergi dengan mobil tanpa spion. But no, the show must go on. Akhirnya setelah menghubungi pihak rental mobil, kami dapat menukar mobil dan mengurus dokumen asuransi berikut penggantian kendaraan. Hampir pukul dua belas siang ketika urusan penukaran mobil selesai dilakukan. Meskipun cukup terlambat, perjalanan pun berlanjut. Tujuan kami hari itu adalah Mount Field National Park dan Lake St. Claire.

Mount Field National Park

Tasmania memiliki sekitar sembilan belas taman nasional yang letaknya tersebar di seluruh penjuru negara bagian. Taman nasional ini merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh pemerintah untuk melestarikan tanaman dan hewan di habitatnya serta mempertahankan lanskap asli di kawasan tersebut. Setiap taman nasional memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing, ada yang berbukit-bukit, basah dengan vegetasi yang rapat, ada pula yang sedikit kering. Selain itu, hampir semua taman nasional ini menyediakan camper site atau lahan perkemahan yang bisa digunakan untuk berkemah menggunakan tenda atau camper van.

Untuk bisa berkunjung ke taman nasional-taman nasional ini, kita harus terlebih dahulu memiliki kartu entry pass yang bisa dibeli di visitor centre semua taman nasional. Pengunjung bisa memilih pass sesuai kebutuhan dari berbagai pilihan yang disediakan. Kami sendiri memilih pass yang bisa digunakan untuk memasuki semua taman nasional dan berlaku selama dua bulan. Tarif untuk pass ini adalah 60 dolar untuk satu mobil.

Mount Field National Park sendiri terletak di sisi barat laut Hobart dan bisa ditempuh dengan berkendara selama kurang dari 2 jam. Di Mt. Field, kami berjalan kaki di sepanjang walking track dan melihat berbagai vegetasi yang tumbuh di sekitar kami. Tanah di taman nasional Mt. Field cenderung basah dengan vegetasi serupa hutan hujan tropis. Pohon-pohon raksasa berlumut melingkupi kami dengan keteduhan, banyak diantaranya yang sudah roboh dan berlubang, siap menjadi bagian dari siklus hidup dan rantai makanan dalam ekosistem.

Sekitar lima belas menit kami berjalan, kami tiba di Russel Falls. Setelah mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan mengikuti track yang disediakan menuju Horse Shoe Falls yang tidak kalah cantiknya. Jalur yang kami lalui agak menanjak, tapi masih cukup mudah ditempuh. Di sepanjang perjalanan kami bertemu dengan beberapa orang pengunjung lainnya. Sapaan singkat seperti Good Day atau sekadar Hello pun terucap.

What a nice day. Terlupakan sudah peristiwa pagi tadi…

Selain Russel dan Horse Shoe, Mt. Field masih punya satu lagi air terjun yakni Lady Barron Falls yang hari itu tidak kami datangi karena jarak tempuhnya yang lumayan jauh sementara kami masih harus melanjutkan perjalanan.

Lake St. Clair

Dibandingkan taman nasional Mt. Field yang basah dan rimbun oleh pepohonan, Lake St. Clair lebih kering walaupun vegatasinya tidak kalah beragam. Sebagaimana taman nasional Mt. Field, Lake St. Clair juga memiliki beberapa walking track yang bisa dipilih sesuai waktu yang kita miliki. Hari itu kami memilih untuk menyusuri track menuju Watersmeet yakni sungai dengan bebatuan besar, dan berlanjut ke Platypus Bay–salah satu sisi danau St. Clair–yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang dari dua jam return trip.

Platypus Bay dinamai demikian bukan tanpa sebab. Di tepian danau terdapat sebidang lahan yang menjadi sarang platipus. Apabila beruntung, kita bisa melihat satwa semiakuatik yang sekilas tampak seperti perpaduan antara bebek dan berang-berang. Berdasarkan sebuah papan informasi di dekat Platypus Bay, kita harus diam tanpa suara agar tidak menakut-nakuti binatang yang satu ini. Sayangnya, si platipus yang ditunggu tidak kunjung menampakkan diri pada hari itu.

Matahari sudah condong ke barat saat kami mengakhiri kunjungan di Lake St. Clair. Waktunya kembali ke jalan raya untuk menuju Queenstown, sebuah kota kecil di sisi barat Tasmania, yang kami pilih untuk tempat bermalam hari itu. Beruntung saat itu musim panas sehingga siang hari jauh lebih panjang. Di sepanjang perjalanan menuju Queenstown, kami melewati lanskap perbukitan yang menjulang, danau buatan Burbury dan pepohonan berdahan pucat di tengah padang rumput.

Cahaya mahatahari senja masih menemani perjalanan kami menyusuri jalan raya yang sangat lengang. Saking lengangnya, kami bahkan sempat berfoto di tengah jalan. Hehehe… Beberapa kali kami berhenti untuk mengambil gambar. Kalau kata Arbain Rambey, cahaya keemasaan saat golden hours harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kalau mau dibuat rangkumannya, bisa dibilang perjalanan dari Lake St. Clair menuju Queenstown itu merupakan highlight of the day, dimana pemandangan yang terpampang di depan kami tidak kalah spektakuler dibandingkan dua tempat yang kami datangi sebelumnya. Setelah apa yang terjadi pada pagi hari itu, alam seolah menyampaikan pesan: everything is going to be okay.

-tubikontinyu-

Advertisements

17 Comments

  1. Platipus ini satu2nya mamalia yg bertelur kan ya? agak kurang lengkap dong ke Australia gak liat binatang itu..
    Tapi tempatnya juga keliatan asoy banget, lebih rugi lagi kalo gak bawa kamera.

    Like

  2. Kerennya 😀
    Khas Australia banget kalau pemandangan-pemandangan seperti itu, ya, Mbak.
    Semacam “the heart of Australia” :hihi

    Btw, salam kenal 😀

    Like

  3. Aaah hutan aku suka! Air terjunnya bagus, fotonya bagus2. Nama-nama tempat di oz & nz sama, Queenstown, Canterbury dan masih banyak lg (lupa). Oz, nz, inggris nama jalan/daerahnya pd sama yak

    Like

  4. Waaaaak Okti, so sorry untuk mobil sewaannya. Masih ada juga ya vandalismenya?
    Btw sepanjang baca dan lihat potonya entah kenapa kok ngebayangin keluarga cullen lelarian di sana ya? Wkwkwkw.. maapkan, meskipun beda benua tapi kebayang aja..

    Like

    1. Ternyata kayak gitu, tapi mungkin mmg lagi apes aja soalnya mobil lain gak kenapa-napa. Hehehe…
      Njungkel baca statement ttg Cullen family, tapi kayaknya kalo dibayang-bayangin mirip juga ya tempatnya 😀

      Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s