Tasmania #2: MONA & Port Arthur

Cuaca kota Hobart masih kurang bersahabat pada hari kedua kami di Tasmania. Meskipun begitu, pagi-pagi kami sudah bersiap-siap dan sarapan di penginapan, dan pada pukul sembilan mobil sudah melaju di jalan raya. Terinspirasi dari informasi yang diperoleh di Hobart Visitor Centre yang kami kunjungi hari sebelumnya, destinasi untuk hari kedua adalah MONA dan Port Arthur.

The Museum of Old and New Art (MONA)

MONA adalah galeri seni yang terletak di sisi utara kota Hobart, berjarak sekitar tiga puluh menit perjalanan dari pusat kota dan terletak di tengah kebun anggur. Majestic. Museum ini dimiliki oleh seorang kolektor benda seni asal Australia bernama David Walsh yang juga cukup terkenal sebagai penjudi profesional. Benda-benda yang dipamerkan di MONA merupakan koleksi pribadi Walsh. Sejak tahun 2011, galeri ini dibuka untuk umum.

Untuk masuk ke MONA, pengunjung dewasa yang bukan berasal dari Tasmania dikenai tarif 25 dolar untuk tiket masuk, tetapi kami mendapatkan potongan 5 dolar karena memiliki kartu mahasiswa. Masih lumayan pricey untuk kantong mahasiswa yang selama ini lebih sering mencari tempat-tempat yang bebas tiket masuk. Tetapi dengan harga segitu, para pengunjung sudah dibekali dengan iPod pinjaman berikut headphone. Piranti ini dapat digunakan sebagai sebagai navigator yang berfungsi untuk menunjukan item-item yang ada di sekitar kita. Selain itu, perangkat ini juga bertindak sebagai tour guide yang menampilkan dan memperdengarkan informasi tentang benda seni yang sedang diamati, antara lain: hal-hal yang menginspirasi atau melatar belakangi pembuatannya, hingga proses pembuatannya sendiri. Mengingat tidak sedikit benda seni yang sulit dipahami dan ditafsirkan artinya, piranti ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi.

Sebelum memasuki galeri, para pengunjung juga sudah diperingatkan bahwa beberapa benda seni yang ditampilkan di MONA mungkin kurang sesuai bagi anak-anak di bawah umur karena menampilkan genitalia atau tema kekerasan. Tapi melihat koleksi yang dipamerkan di sini, saya… merasa. Di sini juga saya menjadi semakin paham bahwa tujuan dibuatnya sebuah karya seni lebih dari sekadar untuk menampilkan karya yang tampak indah dan sedap dipandang, tetapi untuk menyampaikan pesan, menginspirasi, membangkitkan emosi tertentu, atau membuat penikmatnya merasakan sesuatu.

Tanpa terasa, hampir tiga jam kami menghabiskan waktu di MONA. Sudah waktunya untuk mengakhiri kunjungan dan melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Oya, saat kami keluar dari MONA, kami berpapasan dengan beberapa ekor merak yang sengaja dibiarkan bebas. Baru kali ini saya melihat dari dekat burung merak dalam jarak dekat tanpa terhalang kandang.

Port Arthur

Port Arthur berjarak sekitar 60 kilometer di sisi tenggara kota Hobart. Dengan bermobil, perjalanan ke Port Arthur dapat ditempuh selama kurang dari dua jam. Sekitar abad ke-18 hingga ke-19 Port Arthur digunakan sebagai penjara bagi para tahanan yang dibawa dari Eropa. Selain itu, tempat ini juga memiliki sejarah kelam sebagai tempat terjadinya pembantaian 35 orang pada tahun 1996.

Atraksi utama bagi para turis yang berkunjung di Port Arthur adalah situs bersejarah (Port Arthur Historic Sites) dimana pengunjung bisa memilih berbagai tour ke penjara atau makam kuno. Tetapi setelah sepagian mengagumi koleksi di MONA, kami memutuskan untuk meninggalkan historic sites dan memilih untuk bermobil ke pantai-pantai yang banyak tersebar berbagai sudut Port Arthur. Berdasarkan brosur dan peta yang kami peroleh dari visitor centre di Port Arthur serta informasi yang diberikan oleh petugas di sana, kami bermobil ke selatan menuju Maingon Bay dan berhenti di beberapa pantai yang kami lewati di sepanjang perjalanan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Fortescue Bay dan White Beach.

Tidak salah keputusan kami untuk melewatkan tour di historic sites, karena tempat-tempat yang kami tuju menawarkan view yang luar biasa indah. Walaupun mendung masih bergelayut dan langit sedikit kelabu, mata sungguh dimanjakan oleh lukisan alam yang maha agung ini.

-tubikontinyu-

Advertisements

22 Comments

    1. Mungkin karena populasinya nggak banyak jadi kelihatan sepi. Bukan cuma hari Minggu saja kok orang2 disini suka main ke pantai, tapi memang beberapa pantai lebih ramai pengunjung dibandingin pantai yg lain…
      kebetulan banget pantai yg didatangi gak banyak dikunjungi orang πŸ˜€

      Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s