Tasmania #1: Mt. Wellington, Botanical Gardens & Waterfront

Salah satu hal yang saya syukuri saat ini sebagai penyandang status mahasiswa adalah durasi liburan semester yang luar biasa panjang, tiga bulan! Karena saya nggak pulang kampung akhir tahun ini, ditambah aji mumpung sudah terdampar di benua ini, maka kesempatan untuk menjelajahi wilayahnya tidak boleh disia-siakan. Bersama Mbokdhe sekeluarga dan seorang rekan lagi, pada awal bulan Desember yang lalu saya pergi ke Tasmania.

Tasmania adalah salah satu negara bagian di Australia yang terletak di sebelah selatan dan berupa pulau yang terpisah dari mainland. Kalau mendengar namanya, saya jadi ingat film kartun Taz-Mania yang menceritakan Taz si Tasmanian devil pemarah yang hobinya merusak barang-barang. Well, negara bagian Tasmania memang tempat asal binatang yang satu ini.

Jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket pesawat, penginapan selama dua hari pertama, sekaligus menyewa mobil. Karena ada banyak sekali tempat yang harus dikunjungi dan lokasinya tersebar di seluruh pulau, maka roadtrip adalah opsi yang paling sesuai.

Pagi-pagi sekali, kami berangkat dari bandara Tullamarine menuju Hobart, kota perhentian pertama kami. Perjalanan menuju Hobart membutuhkan waktu sekitar satu jam lima belas menit. Sekitar pukul tujuh kami tiba di Hobart, dan tempat pertama yang kami tuju adalah tempat persewaan mobil. Persewaan mobil ini letaknya di area bandara sehingga sangat convenient bagi turis. Setelah mengurus dokumen, mengisi formulir, dan melakukan pembayaran, kunci mobil pun diserahkan. Usai mengecek kondisi mobil sesuai dengan dokumen sewa dan memasukkan barang bawaan, kami pun meninggalkan bandara.

Bisa dibilang perjalanan ke Tasmania ini kami lakukan secara santai. Tidak ada agenda definitif yang sudah kami susun sebelum keberangkatan. Kami hanya mencari informasi tentang beberapa tempat menarik yang ingin dikunjungi, tetapi belum menentukan jadwalnya hingga seminggu ke depan. Meskipun begitu, paling tidak kami sudah punya agenda untuk hari pertama.

Mount Wellington (Episode 1)

Mount Wellington sangat mudah dicapai dari Hobart, waktu tempuhnya kurang dari satu jam berkendara dengan mobil dari pusat kota. Karena itulah tempat ini kami kami jadikan tujuan pertama begitu tiba Hobart. Saat itu belum pukul sembilan pagi, dan Hobart tampak suram digelayuti mendung tebal. Sesekali gerimis turun. Benar-benar bukan kondisi cuaca yang ideal untuk sebuah perjalanan wisata, tapi show must go on. Meski musim panas, suhu udara waktu itu cukup rendah dan semakin menurun menuju titik 0 derajat mendekati puncak Mount Wellington. Kabut mulai tebal dan jarak pandang makin terbatas. Diselimuti kabut setebal itu, rasanya kami seolah masuk ke set film Sleepy Hollow. Sensasional deh πŸ˜€

Di puncak Mt. Wellington, tidak banyak pengunjung lain yang datang selain kami berlima. Bukan hal yang aneh sih kalau mempertimbangkan cuaca yang kurang bersahabat. Yang ajaib justru kami ini yang ngotot naik padahal sudah tahu nggak bakal bisa melihat apa-apa. Begitu keluar dari mobil, kami langsung menggigil disambut udara dingin dan basah ditambah dengan hembusan angin yang cukup kencang. Di antara kabut, saya bisa melihat gugusan bebatuan dan tanaman perdu yang menghampar luas. Beberapa kali saya mencoba mengambil gambar tapi sayang hasilnya mengecewakan. Hampir satu jam kami menunggu dan berharap kabut mereda barang sebentar, namun sayang sepertinya amal ibadah kami kurang sehingga doanya tidak dikabulkan. Sedikit masygul kami pun turun gunung setelah berjanji untuk pergi ke tempat ini lagi nanti siang apabila cuaca agak membaik.

Royal Tasmanian Botanical Gardens

Perut kosong menjadi salah satu faktor pendorong lain untuk kembali ke pusat kota. Karena sedari pagi perut belum terisi makanan, naga-naga di usus pun mulai unjuk rasa. Anarkis. Sialnya, hampir semua tempat makan di Hobart baru buka siang hari. Nando’s, tempat yang hendak kami tuju baru buka pukul 11 siang, itu saja sudah termasuk yang paling pagi. Setelah menyusuri blok di sekitar Nando’s, kami mendapati bahwa hampir semua tempat makan lain masih tutup, kalau pun ada yang sudah buka kadar kehalalannya agak diragukan. Untuk meredakan amukan naga, kami mampir sebentar ke toko roti sambil menunggu tempat-tempat makan itu buka.

Sekitar pukul setengah satu siang, setelah perut kenyang dan melihat Mt. Wellington masih diselubungi kabut, kami mengurungkan niat untuk kembali ke sana dan alih-alih move on ke tujuan berikutnya: Royal Tasmanian Botanical Gardens.

RTBG atau Kebun Raya Tasmania ini hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari pusat kota. Terletak di sisi timur laut Hobart sebelum melewati Tasman Bridge, kebun raya ini berisi berbagai koleksi tanaman yang dipelihara dengan baik. Baaaanyak sekali bunga-bunga cantik beraneka warna yang menarik perhatian. Penataan taman-tamannya yang rapi dan cantik membuat tempat ini fotogenic. Kekecewaan pagi tadi di Mt. Wellington pun sedikit terobati. Cukup lama kami berada di kebun raya. Sekitar pukul lima sore kami baru keluar, sesaat sebelum jam tutup. Meskipun demikian, tidak semua areal kebun raya bisa kami jelajahi saking luasnya tempat ini.

Hobart Waterfront Precinct

Dari kebun raya, kami kembali ke kota untuk check-in di penginapan. Namun sebelumnya kami mampir di visitor centre yang pagi tadi sudah sempat kami datangi tetapi ternyata belum buka, padahal sudah hampir pukul sembilan. Kalau boleh dianalogikan sebagai manusia, Hobart ini tampaknya memang bukan morning person. Visitor centre kota Hobart terletak di Davey St. yang merupakan salah satu jalur arteri kota. Di visitor centre ini kami mengumpulkan brosur yang cukup berguna untuk mencari ide tujuan wisata sekaligus meminta rekomendasi tempat-tempat yang wajib kami kunjungi dari para petugasnya yang sangat informatif.

Usai check-in dan memindahkan barang bawaan dari mobil ke penginapan, perut sudah keroncongan lagi. Kami pun pergi ke Waterfront precinct atau kawasan pelabuhan Hobart. Selain bisa melihat banyak kapal, di tempat ini juga kami banyak menemukan kedai penjual seafood. Lagi-lagi kami makan fish ‘n chips di sana, sekaligus jeprat-jepret sebentar walaupun cuaca masih murung.

-tubikontinyu-

Advertisements

18 Comments

  1. Ini kampungnya si Tazmania devil ya O?
    Hasil jepretan Okti selalu jempolan deh, kalau cuaca galau terpengaruh suasana hati yg sedang berkunjung kali πŸ˜€

    Like

  2. Ish makasih ya O dibagiin cerita jalan-jalan ke sana dan foto-fotonya. πŸ˜€
    Seneng bacanya, soale bukan tipe pejalan-jalan dan nyampe sana mungkin masih lama πŸ˜€

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s