Resensi Film – Dead Poets Society

Salah satu hal tersulit untuk dilakukan setelah lama absen ngeblog adalah memulai kembali. Adaaa saja dalih yang saya berikan dan janji-janji palsu yang saya ucapkan untuk mulai menulis kembali. Tau-tau sudah hampir dua bulan terlewati sejak postingan terakhir dibuat. Padahal semakin lama nggak ngepost, semakin kering juga ide di kepala, dan alhasil semakin susah untuk memulai kembali. Untuk itulah, untuk postingan pertama saya di tahun 2015 ini saya memilih topik yang enteng-enteng aja (not that my other posts are of heavy topics) buat ditulis: film.

Film terakhir yang saya tonton adalah Dead Poets Society. Diproduksi tahun 1989 dan dibintangi oleh almarhum Robin Williams dan Ethan Hawke yang pada tahun itu masih tampak unyu (masih ngetren nggak sih kosakata ini sekarang?), beda sekali penampilannya dengan Ethan Hawke di New York I Love You…

image taken from virginiafilmfestival.org
image taken from virginiafilmfestival.org

Anyways, Dead Poets Society berlatar belakang kehidupan para pelajar di sebuah college-preparatory school pada akhir tahun 1950-an. Welton Academy–nama preparatory school tersebut–adalah sekolah asrama khusus untuk anak laki-laki, sangat elit dan memiliki sistem pendidikan yang sangat konservatif. .

Tersebutlah Neil, salah satu pelajar teladan di Welton, dia berkawan dengan beberapa pelajar di asrama yang memiliki kepribadian beragam. Salah tiga diantaranya yang saya ingat adalah Todd (Ethan Hawke) yang pemalu dan cenderung tertutup, Knox yang puitis, dan Richard sang overachiever. Pada tahun terakhir mereka di akademi, kelas mereka mendapatkan guru bahasa Inggris yang baru pindah ke sekolah tersebut, Mr. Keating (Robin Williams) yang notabene juga merupakan alumnus Welton Academy.

Mr. Keating seketika mencuri perhatian sekaligus mendapatkan tempat di hati para siswanya karena cara mengajarnya yang tidak biasa. Dia membangkitkan semangat para siswa dan mendorong mereka untuk berpikir secara independen. Carpe diem merupakan kalimat yang ia tekankan pada murid-muridnya agar mereka berani meraih mimpi dan mengambil risiko. Berdasarkan hasil pencarian di perpustakaan, Neil menemukan buku tahunan angkatan Mr. Keating dan informasi tentang klub Dead Poets Society yang dulu diikuti oleh Mr. Keating. Bersama kawan-kawannya, Neil membentuk kembali klub tersebut secara diam-diam agar tidak diketahui oleh pihak akademi.

Terinspirasi oleh ajaran Mr. Keating, Neil mengikuti audisi di sebuah pementasan drama dan secara mengejutkan berhasil memperoleh peran utama. Hal ini sebenarnya sangat ditentang oleh orang tuanya yang sangat berharap Neil fokus pada pendidikannya, namun kali ini Neil mengabaikan hal tersebut. Sementara itu, keberadaan klub DPS tercium oleh pihak akademi setelah salah satu kawan Neil menulis artikel di koran sekolah tentang topik yang cukup berani menentang sekolah.

Sehari sebelum pementasan drama, orang tua Neil mendapati anaknya tidak mematuhi perintah dan menyuruh Neil untuk mengundurkan diri. Galau di antara dua pilihan, Neil meminta nasihat kepada Mr. Keating yang kemudian menyarankan untuk menjelaskan kepada orang tuanya tentang betapa penting pementasan ini baginya. Sayangnya Neil tidak melakukan hal ini dan memilih untuk melanjutkan melakukan pertunjukan. Orang tuanya murka dan memutuskan untuk memasukkan Neil ke sekolah militer. Kecewa akan keputusan orang tuanya, Neil pun melakukan langkah drastis dengan bunuh diri.

Peristiwa ini menjadi klimaks konflik antara sekolah dengan Mr. Keating. Akademi mulai mempertanyakan sistem pengajaran Mr. Keating yang tidak sesuai dengan tradisi. Para siswa dipanggil satu-persatu ke ruang kepala sekolah untuk dimintai keterangan, namun mereka harus menghadapi dilema antara keinginan untuk membela guru kesayangan mereka atau takut dikeluarkan dari sekolah.

Film ini sangat menginspirasi dan tokoh-tokohnya sangat berkarakter. Plot mengalir apik tanpa cela, tidak terlalu cepat sehingga mudah diikuti maupun terlalu lambat dan membosankan. Akting para pemerannya brilian, dan topik yang diangkat membuat saya semakin menghargai profesi seorang akademisi.

Satu hal yang bisa saya ambil dari film ini adalah bahwa guru yang baik tidak hanya diharapkan untuk menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya tetapi juga harus menginspirasi mereka, membuka cakrawala berpikir, dan mendorong mereka untuk mampu berpikir mandiri. Dan bahwa tidak ada yang lebih membanggakan bagi seorang guru selain menyaksikan ilmu yang mereka ajarkan dapat diteruskan, ibarat tongkat estafet yang dipindahtangankan ke pelari berikutnya.

Advertisements

18 Comments

  1. jadi guru memang harus menjadi panutan dan inspirasi buat muridnya biar semanga belajar dan membentuk karakter murid2nya. kayanya film bagus.

    *kalau nggak bagus nggak dibikin resensi*
    πŸ˜€

    Like

  2. Ah, salah satu filmnya si bapak yang bagus. Huehehe.
    Eh ikutan yuk O blog english challenge *eaaaaaa, kayak nawarin MLM aja. Lama gak ketemu diajak joinan.. πŸ˜›

    Like

  3. Ini film ter-favorit saya diantara film alm. Robin Williams lainnya. Pertama nonton pas SMP sudah lamaaaaaa sekali, karena dari film ini saya mengenal istilah Carpe Diem-seize the day

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s