Bertamu ke Tetangga: Cameron Highlands

Seperti yang sudah saya posting di sini, pada bulan Oktober tahun 2013 lalu, saya dan si jeng expunere berkunjung ke salah satu negeri tetangga. Saya ingat waktu itu momennya pas sekali: kami habis memperpanjang paspor, ada long weekend Idul Adha tapi harga tiket pulang kampung sudah nggak manusiawi, kemudian waktu jalan-jalan ke travel fair di JCC Senayan ada tawaran tiket murah. Siapa lah yang sanggup melawan bujuk rayunya?

Kami punya banyak waktu untuk merencanakan perjalanan ini. Tempat-tempat yang hendak kami kunjungi dan agenda perjalanan sudah disusun, valas sudah disiapkan, dan akomodasi sudah dipesan jauh-jauh hari. Info printilan semacam sistem transportasi umum di Kuala Lumpur dan operator seluler yang bisa kami pakai juga sudah kami kumpulkan.

Pada hari H keberangkatan kami terbang dari Jakarta pagi-pagi sekali dan tiba di KLIA sebelum tengah hari. Setelah membeli kartu SIM di bandara, kami segera berangkat ke tujuan pertama kami: Cameron Highlands.

Cameron Highlands adalah sebuah dataran tinggi yang terletak di negara bagian Pahang di sisi utara Malaysia. Ada beberapa cara untuk mencapainya, dan kami memilih naik bus yang berangkat dari terminal Pudu Raya. Sebenarnya kami bisa naik taksi untuk menuju terminal tersebut dengan tarif tidak sampai 100 RM, tetapi kami sudah bertekad untuk mencoba dan merasakan seperti apa sih transportasi umum di sini. Untuk itu, dari bandara kami naik KLIA express sampai stasiun Bandar Tasik Selatan kemudian transit menggunakan kereta Rapid KL menuju terminal Pudu Raya. Semua bus menuju Cameron Highland berangkat dari terminal ini, harga tiketnya waktu itu sekitar 35 RM. Perjalanan ke CH membutuhkan waktu sekitar 5 jam.

Jalan menuju CH menanjak dan berkelok-kelok, dan semakin dekat tujuan semakin terasa jauh dari peradaban. Kanan kiri jalan gelap tanpa penerangan, dan kami sedikit was-was bakal kebablasan. Untungnya salah satu penumpang menunjukkan tempat kami harus berhenti dan beruntung sekali ternyata letaknya tidak jauh dari penginapan. (mindblowing fact: if you read carefully, the end of every sentence in this paragraph rhyme)

Pada saat check-in, saya melihat ada beberapa poster paket tur singkat keliling Cameron Highland. Ternyata penginapan yang kami tempati juga menawarkan berbagai paket jasa keliling CH naik mobil jeep lengkap dengan pemandu wisatanya. Harga paket tur berkisar antara 30 hingga 100 RM, tergantung banyaknya tempat yang dikunjungi. Mengingat kami tidak membawa kendaraan pribadi dan hanya akan menghabiskan sehari saja di CH, keberadaan paket tur ini menjadi pilihan yang menarik untuk bisa berkeliling di sana. Masa iya jauh-jauh kesana cuma ngendon di hotel? Kami pun mendaftarkan diri ke tur menuju tiga obyek wisata dengan harga 50 RM tiap orang. Lumayan mahal memang tapi the show must go on.

Pada pukul 9 pagi keesokan harinya, mobil beserta sopir/pemandu wisata yang akan mengantar kami berkeliling sudah siap di tempat. Usai sarapan di rumah makan di samping penginapan tur dimulai. Saat itu kami semobil dengan 4 orang wisatawan lain yang berasal dari Cina. Sepasang suami istri paruh baya, anak perempuan mereka dan tunangannya.

Cameron Highland penuh dengan kebun teh. Kebun-kebun teh ini tampaknya memang menjadi atraksi dan tujuan utama bagi wisatawan yang berkunjung. Mike–sopir merangkap pemandu wisata kami saat itu, menjelaskan panjang lebar seluk beluk perkebunan teh yang ada di CH. Berbagai informasi mulai dari sejarah perkebunan dan perusahaan teh yang ada di sana hingga jenis-jenis teh dijelaskan oleh si Mike ini. Saya akui penjelasannya cukup ekstensif dan dari sini saya jadi tahu beberapa hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas di benak saya, misalnya bahwa teh sebenarnya bukan tumbuhan perdu dan akan tumbuh menjadi pohon tinggi kalau daun dan rantingnya tidak dipangkas terus menerus.

Selain ke kebun-kebun teh, kami juga dibawa ke ujung tertinggi di CH, ke museum serangga, dan ke pabrik pengolahan teh merangkap galeri/museum/restoran milik Boh–salah satu perusahaan teh yang cukup terkenal di Malaysia. Selain itu kami juga diajak mampir masuk hutan. Awalnya kami menolak karena tidak mau berbecek-becek ria, tapi si Mike membujuk “I promise you this will be such experience, you can see the places like those in Lord of The Rings movie.” Sumpeh looo?

Keluar dari hutan kaki dan celana kami berlepotan lumpur. Spot Lord of The Ring yang dijanjikan tadi rupanya beberapa gugus pohon tinggi, rindang, dan berlumut. Well, not quite what I expected but it wasn’t that bad either. Lumut tumbuh di batang dan dahan pohon hingga di tanah yang kami lewati. Kalau saat itu tidak mendung dan cahaya matahari bersinar dari sudut yang tepat bisa jadi tempat itu makin indah oleh adanya shaft of light. Maaf fotonya nggak ada karena saat itu saya malah sibuk menjaga keseimbangan supaya nggak terpeleset.

Anyways, sekitar pukul 12 siang kami kembali ke penginapan. Lepas makan siang, sholat dhuhur dan check-out, kami kembali ke Kuala Lumpur.

Advertisements

48 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s