Resensi Iseng Nicholas Sparks

Adakah yang nggak kenal dengan Nicholas Sparks? Penulis kenamaan asal Amerika Serikat yang membuat banyak wanita mengharu biru dengan novel-novel romantisnya dan sebagian besar diantaranya sudah tampil di layar lebar.

image taken from www.nicholassparks.com
image taken from http://www.nicholassparks.com

Saya tahu tentang Nicholas Sparks untuk pertama kalinya waktu jaman kuliah dulu dan masih rajin-rajinnya nongkrong di Perpustakaan Daerah. Tidak sengaja saya membaca novel Message in a Bottle. Sangat mengharukan dan membekas dalam ingatan. Cerita tentang seorang laki-laki yang larut dalam kesedihan mendalam setelah ditinggal mati istrinya dan menuangkan perasaannya dalam bentuk surat yang dia masukkan ke dalam botol dan diapungkan ke samudra. Belasan surat sudah ditulis oleh laki-laki itu sebelum salah satu diantaranya terhempas hingga ke pantai dan ditemukan oleh seorang wanita. Saking terkesannya saya dengan jalan ceritanya, saya sampai bela-belain menulis setiap surat yang ada di novel ini dalam sebuah buku catatan. Novel ini sudah difilmkan pada tahun 1999 dan dibintangi oleh Kevin Costner.

Selama beberapa tahun kemudian saya seolah mengalami demam Nicholas Sparks. Setelah Message in a Bottle saya membaca Nights in RodantheThe Rescue, dan A Walk to Remember. Dari ketiga novel tersebut hanya A Walk to Remember yang saya tonton filmnya. Nights in Rodanthe difilmkan pada tahun 2008, menampilkan Richard Gere (Pretty Woman), Diane Lane dan James Franco (SpiderMan trilogy). Sepertinya saya juga membaca The Notebook tapi baru belakangan menonton filmnya.

Cukup lama saya absen membaca novel Sparks selepas kuliah, hingga kemudian menemukan DVD The Last Song dan Dear John, dan novel The Guardian di Gr*med*a sekitar tahun 2010. Di sebuah bookfair di kawasan Stasiun Kota saya juga nemu The Lucky One, belakangan saya tahu kalau novel ini difilmkan pada tahun 2012 dengan bintang utama Zac Efron (High School Musical). Yang terakhir, saya menonton Safe Haven saat film itu diputar di TV.

Sekarang saya lebih memilih menonton filmnya daripada bukunya. The Lucky One adalah novelnya yang terakhir saya baca, itupun lantaran bukan versi terjemahan. Amburadulnya terjemahan The Guardian yang diterbitkan oleh Gr*med*a lumayan punya andil untuk membuat saya kapok membeli novel terjemahan lagi. Selain itu, mungkin saya juga sudah overdosis sehingga mencapai titik jenuh dan enggan membaca novel Sparks lagi.

Kalau boleh jujur, hampir semua karya Sparks punya pola yang sama sehingga mudah ditebak. Hampir semua karakter prianya well-mannered, cenderung tertutup, setia dan devoted to the point of impossibility. Not that I am complaining, but at least he could try different formula. Mungkin hal ini juga yang membuat karya Sparks sangat digandrungi wanita. The Notebook misalnya, katanya membuat banyak wanita tergila-gila. Kisah tentang cinta tanpa akhir antara Noah dan Allie yang terhalang restu orang tua dan perbedaan status, dibintangi oleh Ryan Gosling (Drive) dan Rachel McAdams (Time Traveler’s Wife).

Tapi diantara itu semua, yang paling disturbing adalah fakta bahwa hampir selalu ada karakter yang meninggal dalam buku Sparks. Sebut saja Message in A Bottle, Nights in Rodanthe, A Walk to Remember, The Last Song, The Lucky One, Dear John, to name a few (maaf spoiler ya…). Bahkan karakter utama The Notebook juga meninggal di akhir cerita (maaf spoler lagi), walaupun sebenarnya itu nggak ada gunanya buat memancing tangis pembaca. Saya jadi bertanya-tanya apakah memang Sparks sengaja menggunakan formula yang sama ini berulang-ulang untuk membangkitkan emosi pembacanya?

Mereka yang baru mengenal Sparks mungkin bakal terhanyut dalam plotnya yang indah dan mengharu biru, jatuh cinta dengan karakter prianya yang setia sampai mati, lalu sesenggukan di akhir cerita. Tapi setelah berulang-ulang disuguhi menu yang sama, ya lama-lama saya jadi jenuh.

Anyways, meskipun saya nyinyir, tapi saya masih punya novel Sparks favorit kok. A Walk to Remember dan The Last Song. A Walk To Remember bercerita tentang kisah cinta antara remaja berandalan dan anak pendeta. Novel maupun filmnya yang menampilkan Mandy Moore sama-sama membuat air mata meleleh, setelah ditonton berulang-ulang pun filmnya tidak pernah gagal membuat saya mewek. Sementara itu, The Last Song dibintangi oleh Miley Cyrus dan Liam Hemsworth, ceritanya tentang anak perempuan yang tidak bisa memaafkan ayahnya setelah orang tuanya bercerai. Wujud protesnya dia tunjukkan dengan mogok bermain piano walaupun sebenarnya dia sangat berbakat dan bahkan sudah diterima di Juliard. Saya senang disini Miley masih jadi anak baik-baik dan chemistry-nya dapat banget dengan Hemsworth. Dan ya, ada karakter yang meninggal di sini…

Jadi, kamu punya karya Sparks favorit?

Advertisements

35 Comments

      1. sy blm membaca karya om nicho ini tapi baru lihat film2nya, bagus2 sih mbk.. ga bsa berkata2 msh fans pemula wkwkwkw

        tau blog ini cari resensinya keith

        thanks mbk dah dibalas cuap2nya … wkwkw

        Like

  1. Karya terbaik dan terbaru adalah The Longest Ride dan The Best of Me. Dan bulan ini, Nicholas Sparks merilis novel terbaru berjudul See Me.

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s