Ala Chéf

*sambil bersihin sarang laba-laba di blog*

Usia bulan September tinggal beberapa hari lagi dan tanpa terasa pertengahan semester tiba. Saya sudah lupa di jaman kuliah dulu ada libur tengah semester apa enggak tapi di sini mahasiswa dapat jatah libur seminggu.

Santai? Lega? Leha-leha? Tidur cukup?

In your dream

Harapan untuk sedikit bernafas setelah beberapa minggu belakangan ini kalang kabut ngerjain assignment sirna setelah sadar kalau ternyata ada 2 assignment menanti dikumpulkan di masa rehat ini. *nangis di pojokan*

Anyways, salah satu kegiatan di luar kuliah yang cukup saya nikmati selama di sini adalah memasak. Rasanya kegiatan memasak saya seumur hidup belum pernah seintens ini sebelumnya, baik di rumah atau waktu ngekos saya lebih sering beli makanan jadi ketimbang memasak sendiri. Itu pun paling mentok masak tumis atau telor dadar. Disini? Saya sampe bikin kue atau cookies loh (pamer dikit ceritanya).

Ini semua ditunjang oleh betapa convenient-nya belanja bahan makanan di sini. Contohnya di toko daging halal langganan ada baaanyak sekali pilihan yang disediakan. Misalnya ayam, kita bisa pilih ayam utuh, paha ayam, sayap ayam, fillet, marinated chicken yang bisa langsung dipanggang/digoreng, ayam giling, chicken snitzel, dan masih banyak lagi. Daging sapi atau daging kambing juga begitu, banyak pilihannya. Dengan begitu saya nggak perlu punya kemampuan mengiris daging fillet ala Gordon Ramsey dulu kalau mau bikin cordon bleu misalnya. Bumbu masak juga nggak sulit untuk didapat, apalagi yang namanya bumbu masakan India. Pating tlecek. Bukan sesuatu yang pelik kalau tiba-tiba pingin bikin nasi biryani atau chicken tandoori. Rasanya, hasil masakan saya lebih anti gagal di sini ketimbang di Indonesia. Berasa seperti chéf betulan kan jadinya…

Faktor penunjang selanjutnya adalah keberadaan oven dan grill yang jadi satu dengan kompor di dapur. Berasa seperti acara masak-masak di TV jadinya (katrok mode ON). Belakangan ini saya suka banget bikin chocolate chip cookies, tapi karena lebih sering pakai perasaan daripada mengikuti resep, bentuknya nggak pernah konsisten. Padahal saya pernah baca kalimat mutiara seperti ini: “When you cook follow your heart, but when you bake follow the direction.” Heheheh… Nggak lupa, housemate saya si Mbokde orangnya pintar masak jadi bisa bagi-bagi ilmunya. Berkat simbok, saya jadi tau kalo masak mi ayam atau bakso itu ternyata gampang.

Surprisingly, saya makin merasa kalau kegiatan memasak ini jadi therapeutic activity buat sekadar melarikan diri sejenak dari kesibukan kuliah, mengistirahatkan otak sambil nyetok bahan makanan… *tendang timbangan badan jauh-jauh*

Advertisements

18 Comments

  1. wah variatif masakannya, pulang2 ke indo tambah jago nih. aku selama di oz cuma masak telor dadar tiap hari, abis gagal terus masak yg lain. paling mewah masak ayam goreng itu juga beli bumbu jadi di asian market haha

    Like

  2. Ya Kumis… baru inget aku kalo punya blog…. krik krik sekali aku gak pernah bukak, apalagi nulis, lha wong passwordnya aja lupa…. Jadi gini kerjaan di kamar? Ngakunya ngerjain assignment. Cih!!*)
    *)Numpang sombong: sudah lupa apa itu assignment (Mbokdhe, 2015)

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s