Bernafas dalam Kesenian

Tidak terasa sudah lebih dari sebulan saya tinggal di Melbourne dan saya sudah nggak terlalu merasa overwhelmed atau paranoid nggak bisa survive di sini. Saya beruntung tidak sendirian di sini, ada mbokde ira yang setia, ada teman-teman seperjuangan sekaligus para pendahulu yang tidak irit berbagi ilmu. Dengan mengesampingkan susahnya beradaptasi dengan suhu dingin atau menyetel kuping agar mudah memahami aksen penduduk lokal, everything went wonderfully well.

Hari-hari pertama saya di sini dihabiskan dengan belajar naik tram/bus dan menghafalkan rute yang bakal sering saya lewati, pergi ke beberapa belanja bahan makanan halal, dan–tentu saja–ke kampus. Selain itu saya juga masih sempat berkunjung ke National Gallery of Victoria (NGV) dan Royal Botanical Garden.

Satu hal yang sangat mencolok dari kota Melbourne adalah apresiasinya terhadap kesenian. Kalau tidak salah ada puluhan galeri kesenian yang ada di kota ini, ada yang dikelola oleh pemerintah dan ada pula yang bukan. NGV Australia dan NGV International yang terletak di kawasan Flinders Station misalnya, memamerkan berbagai karya seni maupun benda bersejarah dari berbagai belahan dunia, dan mengadakan event berkala dengan beragam tema yang sangat unik. Waktu saya berkunjung ke sana, NGV sedang memamerkan busana-busana dari abad ke-19, koleksi Indigenous atau suku aborigin, karya para seniman dengan berbagai aliran–klasik hingga kontemporer, dan maaaaasih banyak lagi yang lain.

IMG_1160Yang tidak kalah menariknya, pengelola NGV membuat kesenian menjadi sesuatu yang jauh dari kata membosankan. Para pengunjung pun diajari untuk mengapresiasi karya seni dari berbagai sudut pandang, salah satu contohnya adalah melalui program Art as Therapy. Dalam program ini, beberapa karya seni tertentu diberi label berisi tulisan singkat yang akan membuat pengunjung berpikir atau melakukan refleksi terhadap kehidupan dan permasalahan-permasalahan yang lazim mereka alami. Selain itu juga ada program kesenian untuk anak-anak dimana mereka bisa menggambar atau melukis di/dengan berbagai media, beberapa karya seni juga terkadang dilengkapi dengan label For Kids, yang konsepnya kurang lebih sama seperti Art as Therapy dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Bagi mereka yang sangat passionate terhadap kesenian juga bisa bergabung dalam tur-tur yang disediakan oleh galeri untuk bisa lebih memahami karya seni ini.

Itu masih satu galeri lho yang saya bicarakan, masih ada banyak galeri lain yang belum dijelajahi. Semua informasi ini–tema maupun jadwal kegiatan–bisa kita temukan di brosur-brosur yang disediakan di visitor center ataupun secara online. Hebatnya lagi, sebagian besar pameran ini gratis. Memang ada sih, beberapa pameran yang berbayar, tetapi jumlahnya tidak banyak.

Setelah ngomong panjang lebar seperti ini, saya jadi mulai kedengaran seperti agen wisata kota Melbourne, ya? Well, saya hanya sangat terkesan dengan bagaimana kesenian dihargai dan dikelola dengan sedemikian menariknya di kota ini. Meskipun mungkin tidak mudah untuk diwujudkan, saya ingin hal yang sama bisa dilakukan di Indonesia. Mengapa? Karena kesenian bisa jadi salah satu tujuan getaway dari kesibukan sehari-hari, atau sekadar membuat kita berpikir sejenak dan memperbaiki sudut pandang terhadap kehidupan. Bosan juga kan kalau akhir pekan hanya dihabiskan ke mall, nonton, belanja, atau makan? 🙂

Btw, mohon maaf kalau gambarnya kurang banyak dan nggak bagus, karena diambil seadanya pake hape…

Advertisements

16 Comments

  1. Buka gallery O. Pasti seru tuh. Ngebayangin di Jakarta kalo macet mampir ke gallery seni trus lihat artworks gitu instead of malls dan segala macem tokonya, foto-fotomu bisa jadi bahan isi gallery yang ketje tuh O.

    Like

  2. mari pulang nyahhhh haha…ga pengen melbu klub? jare pak’e zahra ndisik melu koncone ra oleh melbu “you’re too young” wkwkwk
    miss yuu nyahh

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s