Pindahan

Yang namanya packing itu nggak enak rasanya. Sebagai seorang pemalas sejati, saya cenderung menjauhinya. Untuk kebutuhan bepergian, saya paling nggak pintar menghitung jumlah dan jenis baju yang harus dibawa, padahal sebenarnya tinggal disesuaikan dengan banyaknya hari dan jenis acaranya. Perkara barang lain-lain yang harus dibawa saat traveling juga saya suka teledor. Maunya cuma bawa baju dan toilettries seperlunya dengan anggapan bahwa kalau nanti ada barang yang kurang/ketinggalan, tinggal beli di toko atau warung. Praktis memang, tapi pasti bakal kerepotan juga kalau di tempat yang kita tuju langka toko/warung atau ATM.

Packing lain yang nggak enak adalah packing dalam rangka pindahan. Heran juga rasanya begitu sadar betapa banyak barang yang saya simpan selama ini dalam kamar kos saya ukurannya cuma 3 x 5 m itu. Cukup pusing kepala ini mikirin cara untuk memindahkan berbagai barang itu. Saya kurang sreg untuk ngirim liwat ekspedisi, karena takut barangnya hilang atau rusak. Setelah dicicil sebanyak tiga kali perjalanan bolak balik Jakarta – Surabaya ternyata isi kamar masih juga nggak berkurang. Ingin rasanya barang-barang itu ditinggal/dibuang/dijual saja jadi saya tinggal bawa barang yang perlu-perlu. Tapi kok ya semuanya perlu? Pantes aja kalo lihat truk pindahan orang, kadang suka ngelihat barang-barang semacam bantal buluk, tumpukan baskom plastik, atau panci gosong yang masih diopeni oleh si empunya barang. Meskipun nggak begitu sedap dipandang, tapi repot juga kalau nggak dimiliki…

Painful as it was, packing tetap harus dilakukan dan alhasil sebagian besar barang-barang kriwilan itu bisa dibawa pulang ke Surabaya (alhamdulillah yah…), untungnya televisi dan kulkas ada yang beli jadi lumayan mengurangi beban. Gitu aja masih ada yang ditinggal seperti rak buku, tikar dan beberapa botol pembersih kamar mandi, obat pel, stoples dan wadah plastik. Jadi nggak habis pikir deh penggambaran pindahan di sinetron atau film. Enak banget, cuma masuk-masukin barang ke dalam kardus. Nggak pakai debu, nggak pakai keringat, dan cari kardus gampang bangeeeet… (hih!)

Pengalaman pindahan ini bikin saya bertekad buat nggak mata keranjang slash jadi impulsive buyer, dan hanya beli barang yang perlu-perlu saja selama saya belum tinggal di rumah sendiri.

Advertisements

8 Comments

  1. Hahaha, membayangkan kerepotan saat pindahan,
    secara saya sudah ngekos dari awal SMA dan suka pindah2, saya cuma membeli kebutuhan ‘wajib’ anak kos *lemari, meja belajar dan rak buku bisa bongkar pasang, *ternyata dalam 3 tahun itu saya pindah kos sampai 5 kali 😀

    Like

  2. Hi hi hi . . awal-awal sih masih bisa nahan buat gak beli-beli karena masih ingat repotnya, tapi lama kelamaan juga lupa. Aku dulu juga gitu, pas baru pindahan lumayan anteng, udah mapan di tempat baru mulai deh bikin tumpukan barang lagi 😀

    Like

  3. Pengalaman pindahan ini bikin saya bertekad buat nggak mata keranjang slash jadi impulsive buyer, dan hanya beli barang yang perlu-perlu saja selama saya belum tinggal di rumah sendiri. –> yakin ta?!?!?!?!?!?? prettt :p

    pindahan?? biasa aja 😀 ..kos 7 tahun tak membuatku surut utk mengirim barang ke rumah :p, lanjut kos lagi karet gusuran-rawajati-mampang-dan terbuang di cibubur 😀

    nyahhhh..ttdj yaaaa hehe

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s