Cunca Rami

Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya.

Slogan tersebut ternyata juga berlaku dalam hal jalan-jalan alias traveling. Seusai mengunjungi Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, masih tersisa waktu sehari (lebih tepatnya hingga pukul 3 sore) sebelum kami harus terbang ke Ngurah Rai. Dengan sisa semangat traveling masih membara, kami memutuskan untuk berkunjung ke Cunca Rami.

Cunca (atau air terjun) Rami terletak sekitar 30 km ke arah Ruteng dari Labuan Bajo. Kami berempat naik motor pinjaman pagi-pagi dan selama sekitar 2 jam kami menyusuri jalanan menanjak yang berkelok-kelok. Berbekal informasi seadanya dari internet dan sesekali bertanya dengan orang yang kami temui di jalan, akhirnya kami sampai di lokasi air terjun.

Dari sekian banyak perjalanan yang pernah saya lakukan, saya merasa perjalanan kali ini adalah yang paling berat dijalani. Kalau seandainya dari awal saya tahu apa yang akan saya hadapi untuk menuju air terjun ini, bisa jadi saya nggak mau pergi. Hahaha. Ingat lagu tema film kartun Ninja Hatori? Mendaki gunung lewati lembah? Kurang lebih medan itulah yang harus kami lakukan untuk mencapai air terjun (lebay to the moon) karena belum ada fasilitas langsung semacam jalan setapak yang visitor-friendly untuk mengakses lokasi tersebut misalnya seperti yang ada di Telaga Sunyi Purwokerto.

Dari lokasi parkir motor, ditemani oleh seorang penduduk desa, kami menuruni bukit selama kurang lebih satu jam, kemudian melewati pematang sawah, menyeberangi sungai, melewati persawahan lagi, hingga akhirnya tiba di air terjun. Kalau biasanya pemandangan di sekitar masih bisa saya nikmati di sepanjang perjalanan, kali ini tidak. Waktu itu saya cuma berkonsentrasi agar tidak tergelincir saat menuruni bukit, agar tidak nyemplung ke sawah karena pematangnya basah dan lembek, dan supaya nggak nyebur ke sungai karena nggak dapat pegangan yang kokoh. Tapi saya ingat, sempat ditawari untuk membeli nanas oleh seorang nenek yang tinggal di sana (kenapa fakta nggak penting ini disebutkan di sini?). Saat itu yang penting bagi saya adalah kaki nggak berhenti melangkah, one step at a time. Nggak berani saya mikir jauh-jauh, misalnya: INI JALAN KESANA AJA SUDAH SETENGAH PINGSAN GIMANA NANTI JALAN BALIKNYA? Hiks.

Akhirnya kami pun tiba di lokasi air terjun. Indah sih, masih alami dan tidak terlalu ramai dikunjungi orang, tapi kami dilarang untuk berenang hingga ke tengah karena katanya cukup dalam dan licin dan pernah ada korban jiwa. Tidak terlalu lama kami berhenti untuk berfoto, main air, sekaligus mengumpulkan kembali kekuatan sebelum kembali. Benar saja, perjalanan kembali ke atas jauuuuh lebih berat karena kami harus mendaki dan jauh lebih lama karena kami harus beristirahat berkali-kali. Lega sekali rasanya ketika akhirnya kami sampai di lokasi parkir motor.

Personally, I don’t think this place worth the journey, except perhaps it made me realize that I can make it there and back. Di saat itulah saya cuma bisa melangkah dan tidak berpikir terlalu jauh, and instead of thinking how far the distance ahead of me, I concentrated on the fact that I’ve made it this far and I will reach the destination in no time. Beugh, sok-sokan banget, padahal sebenarnya karena tengsin gak mau kehilangan muka aja di depan teman-teman saya. Hahahaha…

Advertisements

30 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s