A Tale of Nekat (and Bejo) Traveler: Toba/Samosir Revisited

Jadi pemirsah, ada sisi lain dari perjalanan saya ke Toba/Samosir tahun lalu (duuuh, basi banget ye?).

Keindahan danau di tengah pulau Sumatera tersebut dapat saya nikmati bukan tanpa perjuangan. Bisa dibilang pergi ke sana merupakan sebuah keputusan nekat. Informasi yang saya peroleh hasil googling dan blogwalking dan bertanya kesana kemari masih kurang memadai, terutama untuk moda transportasi karena rata-rata para turis tidak pakai kendaraan umum. Pun tentang pengaturan waktu, karena waktu yang saya punya cuma Sabtu dan Minggu dan saya sudah ketar-ketir bakal ketinggalan pesawat kalo manajemen waktunya buruk. Untunglah Mbak Noni bantuin kasih saran itinerary untuk pergi ke Toba/Samosir ditambah dengan rekomendasi tempat-tempat wisata saat di Medan (thanks a bunch ^^). Untungnyaaa, walaupun cuma modal nekat saya merasa jadi orang bejo alias kelimpahan banyak keberuntungan selama menuju maupun berada di sana. Berikut ini diantaranya…

Bejo #1: Perjalanan dimulai hari Jumat sore setelah semua acara di Medan selesai, bermodalkan optimisme bahwa segalanya akan baik-baik saja (Pinkan Mambo mana Pinkan Mambo?). Bersama seorang rekan seperjalanan, kami diantar ke Jalan Sisingamangaraja tempat banyak travel antar kota berada. Awalnya kami mau diantar naik motor, tapi karena ada yang bawa mobil, pilih alternatif yang lebih enak dong. Hehehe…

Rupanya kawan saya ini tidak tahu terlalu banyak tentang travel antar kota ini sehingga kami diantar ke sebuah bangunan dengan kondisi cukup memprihatinkan dimana buaaanyak sekali orang menunggu di depannya, dan beberapa minibus berjajar di depannya. Sekilas pandang, travel agent-travel agent ini lebih tampak seperti jajaran bengkel mobil tua. Setelah membeli tiket dan menunggu beberapa menit, kami pun berangkat. Minibus tua berkapasitas 11 orang itu penuh sesak dengan manusia dan barang bawaan.

Bejo #2: Perjalanan ke Toba membutuhkan waktu 4 jam perjalanan dan dua kali berhenti untuk makan, salah satu lokasi perhentian adalah di Siantar. Mobil berhenti di depan sebuah depot dan para penumpang turun untuk kemudian masuk ke depot tersebut. Tanpa pikir macem-macem kami ikutan masuk sambil mengira-ngira menu apa yang akan dihidangkan. Seorang laki-laki dengan suara lantang meneriaki kami, “rumah makan muslim di sebelah sana, bukan di sini.” Glek. ternyata yang kami masuki tadi depot makanan non-halal. Untung dikasih tau sebelum terlambat. Hehehehe. Sambil cengar-cengir kami masuk ke kedai makan yang ditunjuk. Di tempat itu saya makan gulai daun singkong paling enak yang pernah saya makan selama ini. Suwer.

Bejo #3: Akhirnya kami pun sampai di Kota Parapat dalam kondisi mabok setelah dikopyok di dalam mobil dengan sopir ugal-ugalan melewati jalur mendaki yang penuh liukan. Diterangi oleh sisa sisa cahaya terakhir yang meninggalkan langit, saya melihat sekilas janji akan keindahan alam danau Toba yang membentang dengan latar belakang pegunungan. Setengah 3 kami berangkat dari Medan, jam setengah 8 kami tiba, kami turun di depan Masjid di samping gerbang menuju dermaga. Beruntung, disana saya bertemu dengan seorang bapak baik hati yang sangat informatif memberitahukan dimana kami bisa menginap, rekomendasi hotel, dan bahkan kami pun diantar ke penginapan. Hiks, terharu…

Bejo #4: Kami menginap di Hotel Bahari, paaaas banget karena tinggal satu kamar yang tersisa, tenaga sudah habis kalau kami harus mencari penginapan lain.

Bejo #5: Di kamar hotel, TV kami rusak sehingga ada mas-mas yang datang untuk mbetulin. Dari dia saya tanya-tanya tentang travel antar kota. Nggak kebayang untuk mengulangi perjalanan yang sama dengan naik travel seperti kami berangkat. Untungnya mas-mas itu memberitahu kalau sebenarnya ada travel yang rada bagusan dikit untuk kembali ke Medan, dia bahkan menawarkan diri untuk mencarikan saat kami akan kembali nanti. Hiks, buat mas Abdul Kodir di Parapat sana, semoga kebaikanmu dibalas Allah SWT…

Bejo #6: Pagi-pagi saya baru browsing cari hotel di Samosir nanti, eh ndilalah kok ya terdampar di blognya Mbak Noni yang kesengsem dengan Hotel Romlan. Waktu saya hubungi, untunglah masih ada kamar kosong, padahal waktu itu sudah weekend dan besar kemungkinan penginapan penuh. Ditambah lagi penginapan di Romlan sangat terjangkau.

Bejo #7: Setelah checkout pada hari Minggunya, kami naik angkot ke pelabuhan dan lanjut naik kapal penyeberangan ke Samosir. Di kapal kami ketemu dengan sepasang Mas dan Mbak lagi bikin selfie di atas geladak. Ngelihat ada penumpang nganggur, mereka minta tolong ambilin foto. Kami pun akhirnya ngobrol dan sharing info tentang penginapan di Samosir dan travel untuk kembali ke Medan. Lewat si Mas ini pula saya jadi tahu ada travel yang lokasinya di depan pelabuhan Tiga Raja persis. Klop deh. Jadi nggak usah ngerepotin mas Abdul Kodir lagi toh?

Bejo #8: Begitu sampai di Romlan ternyata si selfie couple tadi ikutan turun. Kami dibawa berkeliling sama petugas hotelnya, ternyata tinggal tersisa dua kamar. Salah satu diantaranya kurang strategis karena tidak menghadap danau tapi kamar mandi umum sementara yang satu lagi tepat di depan danau dengan bentuk bangunan seperti rumah Batak. Jeng jeng jeng…… jangan sampai selfie couple tadi dapat rumah bataknya (ceritanya saya sudah mentally claimed rumah batak tadi, hehehe). Untungnya tempat tidur di rumah batak tadi twin sehingga pasangan tadi nggak mau. Yippee…

Idealnya memang kita sudah harus membuat rencana sebelum melakukan sebuah perjalanan wisata. Akomodasi berupa penginapan dan transportasi biasanya harus sudah dipastikan jauh-jauh hari supaya perjalanan anda lebih nyaman tanpa direpotkan hal-hal semacam ini yang pastinya menghabiskan waktu, belum lagi risiko tertipu. Tapi kadang kala, ada situasi dimana kita kekurangan waktu untuk membuat perencanaan, informasi tujuan wisata terbatas di Internet, atau kita baru menyadari ada yang terlewat saat perjalanan sudah dilakukan.

Saya punya teman yang hobi traveling dan salah satu ilmunya yang saya ambil ketika kami pergi ke Maluku adalah jangan terlalu fokus dengan rekan seperjalanan anda saja, ajak ngobrol juga orang yang ditemui selama perjalanan. Apalagi kalau kita melakukan perjalanan dengan kendaraan umum, makin banyak orang yang bisa kita ajak bicara dan tanyai. Tentu saja kita masih tetap harus berhati-hati dalam memilih orang dan mengajukan pertanyaan (jangan sampai kedengaran terlalu putus asa, misalnya), tapi bisa jadi banyak informasi berharga bisa kita peroleh dari orang-orang seperti ini.

Advertisements

29 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s