Sassy Vampire and Jumping Girl

Apa yang anda lakukan kalau rasa jenuh mulai menghantam? Belakangan yang saya lakukan untuk membunuh waktu adalah nonton film di bioskop. Dua diantara beberapa film yang terakhir saya tonton adalah film remaja (fufufufufu…) kalau melihat jalan cerita dan karakter-karakter utamanya. Maklum, saat itu maunya nonton film ringan saja tanpa butuh mikir. Tapi secara umum saya orangnya memang nggak pilih-pilih juga kalau nonton film.

Sebagian orang mencari tahu bagaimana jalan cerita secara umum dari film yang akan ditonton, melihat bagaimana reviewnya di IMDB atau Rotten Tomatoes dan bahkan mengurungkan niat untuk menonton kalau angkanya jelek, sebagian tidak peduli. Kalau saya cenderung masuk golongan yang kedua. Most of fabulous movies I have found are indeed the ones I watched without knowing what their stories are about, what their ratings are, who star the characters, and so forth. I believe the surprise factor plays an important role in enjoying a movie. And I don’t trust ratings.

Dimitri & Rose

Anyways, VAMPIRE ACADEMY. Alkisah, vampir hidup di antara para manusia. Dunia vampir ternyata terbagi-bagi menjadi beberapa golongan dan status. Golongan tertinggi adalah kaum Moroi yang merupakan kaum bangsawan, kaum Dhampir yang merupakan blasteran manusia-vampir, dan Strigoi–vampir paling jahat dari yang jahat.

Kisah berpusat pada persahabatan antara seorang Dhampir bernama Rose Hathaway (Zoey Deutch) dan pewaris tahta Moroi bernama Vasilisa Dragomir (Lucy Fry) yang kabur dari akademi agar Vasilisa terhindar dari ancaman pembunuhan. Ya, vampir bisa dibunuh seperti manusia dalam film ini. Suatu malam, pelarian dua remaja ini harus berakhir setelah mereka tertangkap, dan mereka pun harus kembali ke akademi meskipun enggan. Bayangkan saja akademi vampir ini semacam sekolah sihir seperti Hogwarts, dimana para vampir belajar berbagai ilmu pengetahuan sampai ilmu bela diri. Setelah kembali ke akademi, Vasilisa kembali menerima berbagai ancaman, dan Rose dengan bantuan beberapa vampir di akademi berusaha untuk melindunginya dan mencari siapa otak di balik usaha pembunuhan ini.

Tidak terlalu sulit untuk mengikuti jalan cerita film ringan ini. Despite the crappy CGI, lame movie plot, I quite enjoyed the smart-mouth and quick-witted dialogues, particularly those involving Rose. I found the humour funny and the romance between Rose and Dimitri beautiful–not forced. There’s no need to worry, you will not find any sparkling vampires who wear three-tones-lighter foundation, you are going to see a vampire who resembles Steven Seagal instead.

Divergent

DIVERGENT. Alkisah, pasca perang besar di masa depan, masyarakat dibagi menjadi 5 faksi atau golongan besar sesuai dengan sifat orang-orangnya. Kelimanya antara lain Abnegation–kaumnya orang-orang yang tidak memiliki pamrih, Amity atau orang-orang pecinta damai, Candor–yang meliputi orang-orang jujur pembela keadilan, Erudite sebagai golongan para cendekia, dan Dauntless–para pemberani. Pemerintahan dipimpin oleh kaum Abnegation, penegak hukum adalah Dauntless dan Candor, Erudite adalah kaum pemikir dan kebutuhan pangan dipenuhi oleh kaum Amity.

Di dunia tersebut, setiap anak muda yang berusia 16 tahun harus menjalani ujian untuk memilih faksi yang akan mereka ikuti. Dalam kondisi normal, setiap orang akan memiliki satu sifat saja, tetapi ternyata Beatrice Prior (Shailene Woodley), tokoh utama film ini, terindikasi divergent–atau memiliki lebih dari satu sifat. Sayangnya, kondisi divergent merupakan kondisi yang sangat ditakuti dan sebaiknya disembunyikan. Karena harus menentukan pilihan, akhirnya Beatrice meninggalkan faksi Abnegation dimana dia dibesarkan dan memutuskan untuk bergabung bersama faksi Dauntless yang selama ini sangat memikat hatinya.

Ternyata tidak mudah untuk menjadi bagian dari faksi Dauntless, Beatrice harus bersusah payah menjalani berbagai latihan berat. Semuanya berusaha agar tidak gagal, karena mereka akan dikeluarkan dan bergabung dengan para non-faction atau golongan terbuang. Beatrice mendapatkan banyak kawan–sekaligus musuh–baru, mempelajari ilmu baru, dan bertemu dengan seorang pemuda bernama Four (Theo James) yang ternyata juga divergent. Di tengah berbagai usahanya untuk tidak dikeluarkan dari Dauntless dan juga menyembunyikan jati dirinya, terjadilah pemberontakan terhadap pemerintah. Perang besar tak dapat dihindarkan, dan Beatrice harus mencegah agar orang tuanya tidak terbunuh.

Okay, enough about the movie, here comes the b*tchin’ part. The idea to create such world sounds ridiculous for me. I don’t really understand the factions and how come those people agree to follow the system. It was said that the factions system are created to avoid wars, but then those non-faction people could pose a threat to the society if they plan to confront the government. I also do not understand why Dauntless keep running and jumping everywhere. As a movie that comes from book which happen to be a trilogy, Divergent should build strong foundation and give the audiences sufficient understanding before the sequels come out. However, if you don’t mind those stuffs then I guess you can enjoy the movie. 

By the way, sepertinya belakangan film dan buku (yang kemudian difilmkan) dengan genre fantasi makin marak dan naik daun. Banyak penulis mencoba menuliskan dan menciptakan dunia dengan aturan yang berbeda dari dunia sebagaimana yang kita kenal. Coba kalau disebutkan satu-satu ya, kita punya Percy Jackson, Eragon, Hunger Game, Mortal Instruments: City of Bones, dan seterusnya. Mungkinkah ini disebabkan oleh kesuksesan Harry Potter dan Lord of The Rings? Entahlah, bisa jadi pendapat ini kurang berdasar dan cuma mengandalkan perasaan saja.

Advertisements

8 Comments

  1. selain harry potter n lotr baru suka hunger games. Kalo divergent belom baca bukunya. Hihihi. Soal vampir, setelah baca bukunya drakula kok ya jadi males nonton vampir-vampiran. Hihihihihi..

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s