Kekayaan Tersembunyi Ruteng

Perjalanan dari Kupang ke Ruteng pagi itu diawali dengan bangun terlambat dan kalang kabut menyiapkan diri dan barang bawaan. Untung malam sebelumnya saya sudah mengepak sebagian besar pakaian, sehingga cuma butuh lima menit dari bangun tidur hingga keluar kamar. Yeap, nggak pakai mandi pagi 😀

Rasa kantuk yang masih tersisa lenyap begitu saya ketika sudah masuk pesawat. Selain karena tempat duduk berada persis di samping baling-baling, pemandangan pulau Flores yang berbukit-bukit tampak menakjubkan dari udara. Hawa dingin yang menggigit langsung menyambut kami begitu mendarat di bandara Frans Sales Lega. Ruteng memang terletak di dataran tinggi, pada bulan Maret hawa dingin bertahan sampai pukul 11 siang dan kembali pada pukul 5 sore. Imagine how the weather is during the peak of rainy season 🙂

Seperti halnya sebagian besar daerah di luar Jawa (sadly), Ruteng belum terlalu berkembang. Kota ini kecil dan serba minimalis, jangankan toko serba ada–warung makan pun tidak banyak ditemukan. Sulit pula untuk menemukan tempat yang menjual makanan khas Ruteng, alih-alih malah lebih banyak saya temukan makanan khas Jawa, chinese food, dan masakan Padang. Penjualnya memang para pendatang. Eh tapi justru di sini lho saya menemukan terang bulan–atau martabak manis–paling enak yang pernah saya rasakan.

Ruteng memang bukan tempat yang tepat bila kita mencari pantai, pasir putih, atau laut biru, tapi jangan mengira bahwa tempat ini tidak punya sesuatu yang bisa ditunjukkan kepada para wisatawan yang berkunjung. Saya beruntung bisa melihat dua diantaranya: Liang Bua dan Lingko.

Liang Bua adalah sebuah gua yang terletak sekitar 13 kilometer dari Ruteng dan bisa ditempuh dengan naik mobil. Yang menarik dari Liang Bua adalah bahwa gua ini merupakan sebuah situs arkeologi dimana pernah ditemukan manusia purba kerdil Homo Floresiensis pada tahun 2003 silam. Beberapa orang penduduk sekitar dan seorang pria bertopi muncul saat kami tiba di Liang Bua, pria bertopi ini bahkan menghampiri dan menyalami kami satu per satu, kemudian mengobrol dalam bahasa daerahnya dengan Om Heri–rekan yang mengantar kami berkeliling.

Dari Liang Bua kami melanjutkan perjalanan ke desa Cancar, kabupatan Waeblang untuk melihat Lingko dari dekat. Lingko adalah lahan pertanian yang dibagi dengan sebuah sistem ala Manggarai–namanya sistem Lodok. Kalau di Jawa (atau mungkin bahkan di tempat lain) kita melihat sawah dibagi-bagi dalam bentuk persegi, di Cancar ini kita akan mendapati gugusan sawah yang bentuknya melingkar. Sepintas bentuknya mirip jaring laba-laba. Untuk melihat Lingko ini kita harus mendaki hingga ke puncak bukit. Segerombolan anak kecil mengikuti kami mendaki. Perjalanan menaiki bukit ini lumayan membuat nafas ngos-ngosan, tetapi begitu kita sampai di puncak, pemandangan yang disuguhkan sungguh luar biasa. Tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak dan menikmati keindahan sawah menghijau dan angin yang berhembus.

Keesokan harinya saat kami akan meninggalkan Ruteng, kami diberitahu kalau keturunan manusia kerdil ini masih ada di Flores sampai sekarang. Menurut kabar, biasanya ada seorang petugas yang muncul ketika ada pengunjung di Liang Bua dan petugas ini bisa mengantarkan kita untuk bertemu dengan mereka. Saya langsung teringat pada orang bertopi yang menyalami kami satu persatu dan merasa menyesal karena tidak meminta bantuannya untuk bisa bertemu langsung dengan para hobbit ini. Tetapi ketika akhirnya saya menyampaikan hal ini pada Om Heri, dia hanya tertawa dan berkata bahwa pria bertopi itu orang gila. GUBRAK!

Advertisements

48 Comments

  1. Perjalanan nan eksotis. Sistem sawah yg berpusat itu kayaknya cuma ada di Flores ya Mbak..Sungguh menarik melihatnya dari atas..

    Like

  2. Flores memang sangat indah, sayangnya saya baru bisa ke Labuan Bajo-Komodo & kab. Ende. Mimpinya pengen jelajah dari ujung barat ke ujung timur Flores, lanjut lagi sampe Alor, kapan ya ?? btw silakan mampir ke blog saya jg mba. It’s all about My Travel Story

    Like

  3. Kekayaan Indonesia cukup melimpah. Yahhh, jika di gunakan semaksimal mungkin, rakyatnya bisa sejahtera.
    Salam kenal Mbak.
    Mungkin bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog saya. hehehe
    salam.

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s