Dua Hari di Kupang: Dari Pantai Toblolong Hingga Jagung Bose

Apa yang terpikir di benak anda kalau mendengar kata kupang? Kalau saya sendiri–sebagai orang Surabaya–akan membayangkan seporsi lontong kupang–sejenis kerang kecil yang dimasak kuah bening dengan bumbu bawang putih, gula, petis, dan jeruk nipis–ditemani dengan es degan dingin. Tapi bukan kupang ini yang akan saya ceritakan, melainkan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Indonesia.

Kupang merupakan ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur, letaknya di pulau Timor, pulau dimana Indonesia berbagi wilayah dengan Timor Leste. Kesan pertama yang saya rasakan sejak mendarat di bandara El Tari adalah hawanya yang panas (bukan hal yang aneh sih kalau sudah pernah tinggal di Surabaya). Dari Jakarta, Kupang bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam naik pesawat.

Bagi yang berkesempatan untuk berkunjung di Kupang dan punya banyak waktu untuk menjelajah, maka bisa menyeberang ke pulau Rote–pulau paling selatan di wilayah Indonesia–atau ke pulau Alor. Tetapi sayangnya  waktu luang bukanlah milik kami, sehingga kami memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang bisa dicapai dalam waktu sehari saja. Beruntung, seorang rekan seperjalanan saya punya kawan yang tinggal di Kupang sehingga bisa kami culik untuk mengantarkan kami berjalan-jalan. Dari siang sampai malam, kami mengunjungi air terjun Oenesu, pantai Toblolong, pantai Lasiana, makan ikan bakar di kampung Solor, sampai berbelanja oleh-oleh.

Oenesu dan Toblolong bisa dicapai dengan naik mobil, dan karena letaknya searah maka bisa kita mengunjunginya sekali jalan. Saya agak kecewa melihat keadaan air terjun Oenesu yang tampak sangat tidak terawat. Sampah-sampah berserakan dimana-mana, jalan menurun untuk menuju air terjun juga kotor dan dipenuhi lumut sehingga kita harus berjalan hati-hati agar tidak tergelincir. Kami tidak terlalu lama berada di air terjun ini dan kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai Toblolong. Panas matahari sangat terik hari itu sehingga jalan berbatu dan pasir yang ada dibawah kaki juga terasa menyengat, mengundang kami untuk berjalan lebih jauh ke arah laut sehingga bisa merendam kaki dalam sapuan ombak dan pasir yang sejuk. Tetapi karena matahari yang terik ini lah kami mendapatkan pemandangan yang sangat breathtaking: langit cerah, laut biru, dan awan-awan yang indah.

Waktu masih tersisa sebelum senja, dan sekali lagi kami mengunjungi satu pantai–Lasiana. Berbeda dengan Toblolong yang berpasir putih, di Lasiana pasirnya berwarna gelap. Di sini kami dihampiri oleh sekumpulan anak-anak Kupang yang bermain-main di pantai. Mereka tidak segan-segan untuk minta difoto dan berpose, juga bertanya dari mana kami berasal. Ketika sinar terakhir matahari akhirnya lenyap, kami kembali ke kota untuk makan malam. Pada malam hari di sepanjang trotoar jalan El Tari banyak berderet para pedagang kaki lima yang berjualan jagung bakar dan bubur kacang hijau, tetapi mengingat kami sudah melewatkan makan siang dan makanan kecil rasanya kurang nampol, maka kami memutuskan untuk makan ikan bakar di kampung Solor.

Di kota Kupang ini harga ikan sangat murah, jadi silakan dipuas-puaskan kalau makan ikan di sini. Malam itu kami makan ikan kakap dan ikan baronang bakar berukuran besar harganya sekitar 100 ribuan saja. Masih tentang makanan, Kupang memiliki satu hidangan khas dan saya bersyukur sekali karena di sini berkesempatan untuk mencicipinya. Namanya Jagung Bose. Sekilas penampilannya seperti bubur kacang hijau, tetapi ternyata rasanya gurih dan bukan manis. Jagung Bose terdiri dari jagung putih, kacang hijau dan kacang merah/kacang tanah yang dimasak dengan santan, konon hidangan ini adalah hidangan istimewa yang hanya dihidangkan untuk orang-orang terhormat. Satu makanan khas Kupang lainnya yang hanya bisa ditemukan di sini adalah Se’i–daging sapi/ikan yang digarami dan diasapkan sehingga bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Se’i bisa ditemukan di toko oleh-oleh, tetapi kita perlu memperhitungkan waktu perjalanan karena se’i harus disimpan di dalam freezer.

Sudah larut malam ketika akhirnya kami kembali ke penginapan, keesokan harinya saya sampai hampir ketinggalan pesawat karena telat bangun. hehehehe…

Advertisements

34 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s