Travel Journal: Maluku Utara (2)

Dua hari terpesona oleh keindahan perairan Tobelo perjalanan saya berlanjut ke Ternate, sebuah kota kepulauan di sisi barat Pulau Halmahera. Berikut catatan perjalanan saya…

Bagian Kedua: Ternate

Bagi yang berangkat dari Surabaya, Jakarta, Manado atau Makassar, ada penerbangan langsung menuju Ternate. Tetapi karena starting point kami adalah Tobelo, maka kami menggunakan alat transportasi darat dan laut untuk menuju ke sana. Untuk menuju Ternate, kami naik taksi (mobil sewaan) yang banyak ditemukan di kota Tobelo untuk mengantarkan kami ke Sofifi. Tarif taksi ke Sofifi adalah 100 ribu rupiah dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Kami disarankan untuk berangkat pagi-pagi untuk menghindari ombak tinggi.

Berdasarkan cerita kawan-kawan di Tobelo, menyeberang ke Ternate merupakan pengalaman yang harus dialami sendiri. Kami mendengarkan berbagai cerita mendebarkan, mulai dari terombang-ambing di tengah ombak dan badai hingga keharusan menginap di pelabuhan untuk menunggu amukan ombak mereda.

Perahu motor kecil yang umum disebut speed merupakan sarana penghubung antar pulau di Ternate. Speed yang banyak ditemukan di pelabuhan Sofifi hanya berkapasitas sekitar 10 orang penumpang. Dengan pengemudi yang duduk di depan, rasanya seperti naik bemo air. Bedanya di belakang kemudi terdapat tumpukan pelampung berwana oranye cerah yang disediakan bagi penumpang. Saya lihat sekeliling ternyata ada beberapa orang yang sudah membawa pelampung sendiri untuk berjaga-jaga. Tarif penyeberangan dari Sofifi ke Ternate ini adalah 50 ribu rupiah.

Kecepatan speed yang cukup tinggi ditambah dengan hantaman ombak membuat perjalanan menyeberangi selat ini cukup rocky, rasanya seperti naik mobil tanpa shock absorber yang ngebut di jalanan penuh lubang. Mungkin beda rasanya kalau kita naik kapal ferry. Bagi teman-teman yang akan menyeberang dengan speed seperti ini, satu tips untuk anda: duduklah di bangku belakang yang paling dekat dengan pintu keluar, karena bagian ini sama sekali tidak terangkat dari air sehingga goncangan tidak terlalu terasa.

Bagi yang masih mengingat pelajaran Sejarah, Ternate dulu adalah sebuah kesultanan besar yang mahsyur pada abar ke-16 berkat rempah-rempahnya. Bahkan konon bangsa asing dulu memutuskan untuk menjajah wilayah ini lantaran mupeng dengan rempah-rempah. Istana kesultanan Ternate masih ada sampai sekarang dan bisa kita lihat dari jalan raya, sayangnya tempat ini tidak terbuka untuk umum, sehingga kami cuma bisa melihat dan mengambil foto dari jauh.

Walaupun terdiri dari 8 pulau, luas area Ternate tidak terlalu besar sehingga keliling Ternate bisa dilakukan sehari saja. Dibandingkan Tobelo, informasi tempat wisata di Ternate bisa dibilang kurang, sehingga kami harus bertanya kesana kemari terlebih dahulu untuk mengetahui spot-spot yang menarik di sana. Saya dapat info tentang pohon cengkeh tertua di dunia yang ada di Ternate, juga tentang museum dimana terdapat mahkota berambut yang terus memanjang sehingga harus dipotong setiap tahun (mistis ya bo’), tetapi karena waktu yang terbatas, kami berkunjung ke Pantai Sulamadaha, Batu Angus, dan Benteng Tolukko.

Pantai Sulamadaha memiliki air yang jernih walaupun pasirnya tidak putih. Dari pintu masuk kita bisa melewati jalan kecil yang cukup curam di beberapa bagian. Di sebelah kiri kita bersisian dengan tebing sedangkan di sebelah kanan kita sudah bisa melihat laut lepas dengan latar belakang Pulau Hiri. Indah sekali. Ada warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman di sepanjang jalan ini, tetapi sepertinya hanya buka di hari libur, untuk itu sebaiknya kita membawa air minum sendiri supaya nggak kehausan.

Batu Angus adalah sebuah kawasan di timur pulau Ternate dimana tersebar bongkahan-bongkahan batu hitam legam yang merupakan lava beku yang dimuntahkan Gamalama saat terjadi letusan pada tahun 1673. Dari sini kita bisa melihat keagungan Gunung Gamalama dan laut biru yang membentang.

Benteng Tolukko adalah tempat persinggahan terakhir kami. Terletak tidak jauh dari Batu Angus, benteng ini merupakan peninggalan Portugis yang pernah menduduki wilayah ini pada tahun 1500-an dalam usahanya untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Dari depan, benteng ini tampak terawat dan rapi, sayangnya perawatan ini tidak dilakukan di bagian yang tidak tampak, misalnya di bagian samping dan belakang benteng. Rumput liar yang tidak disiangi dan sampah yang tidak dibersihkan masih banyak kita temukan bila kita berjalan berkeliling.

Akhirnya, perjalanan saya di Maluku pun usai sampai di sini. Sampai bertemu lagi di jurnal perjalanan saya selanjutnya 😀

Advertisements

34 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s