The Climb

Rasa tidak nyaman di hatinya hingga kini masih bercokol tak mau pergi sejak kejadian itu. Tanpa disangka-sangka Tirta berkata ia akan pergi mendaki Himalaya tahun depan. Bersama Leo. Reaksi spontan emosi Sofia saat itu cukup amburadul. Ia kecewa, cemburu, sekaligus sedih. Tetapi marah menjadi lapisan terluarnya.

“Apa katamu?”
“Aku ingin pergi ke sana sebelum usiaku menginjak tiga puluh tahun.”
“Bagaimana mungkin baru sekarang aku mengetahui rencanamu ini?”
Tirta tak menjawab.
“Apa arti dari semua yang telah kita lalui bersama kalau ternyata kau melupakan aku sama sekali dari rencana besarmu ini?” tuntutnya.
“Ini sudah menjadi rencana kami jauh–jauh sebelum aku mengenalmu.”
“Kau tahu aku juga pendaki gunung, bersama-sama kita sudah mendaki beberapa diantaranya di negeri ini. Tidak pernahkan terlintas di pikiranmu barang sekali saja untuk mengikutsertakan diriku dalam perjalananmu ke Himalaya?” Nada suara Sofia meninggi
Lagi-lagi Tirta tak menjawab.
“Kenapa harus Leo dan bukan aku yang kau pilih? Apa kau pikir aku tidak sanggup menjalaninya?”
Tirta mengangkat bahu. “Medannya terlalu berat, kurasa kau bukan orang yang tepat untuk menjadi rekan seperjalananku kali ini.”
Hantaman, dan Sofia termangu mendengarnya. “Tidakkah kau tahu bahwa aku sanggup melalui apa pun selama aku bersamamu?” kalimat terakhir itu hanya berani ia ucapkan di dalam hati.

IMG_6584

Percakapan mereka senja itu terus menerus bermain di benak Sofia. Ini sudah menjadi rencana kami jauh sebelum aku mengenalmu. Kau bukan orang yang tepat untuk menjadi rekan seperjalananku. Ia biarkan kalimat-kalimat itu mencincang hatinya sampai hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang terserak lalu diterbangkan oleh angin. Hampa.

Persetan dengan Tirta, mengapa tak kau susun rencana pendakianmu sendiri? Entah darimana suara kecil itu muncul, seperti seseorang yang mendadak menekan tombol STOP di pemutar video yang berulang-ulang memainkan adegan yang sama. Bagaikan terbangun dari tidur panjangnya, Sofia berangsur-angsur tersadar. Membiarkan perasaannya pada Tirta yang memegang kendali, ia selama ini tanpa sadar selalu menggantungkan diri pada Tirta untuk menentukan gunung mana yang hendak mereka daki. Mau ke Semeru? Mauuuu. Yuk ke Rinjani? Mariiii. Selalu seperti itu sampai-sampai Sofia tidak pernah menyusun rencana untuk dirinya sendiri. Menentukan sendiri gunung mana yang ingin ia taklukkan, menentukan jalur pendakian mana yang akan dipilihnya, menentukan dengan siapa ia akan mendaki.

Air matanya mengering. Sudah waktunya untuk menyusun rencana pendakianmu sendiri, Sofia.

Advertisements

28 Comments

    1. Wehehe, biar bisa cuap2 sembarangan mas Rifki. Mohon maap kalau nemu postingan yg ga penting banget 😀
      Tantangannya dimana Mas? Saya cuma tahu dailypost…

      Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s