D o a

Imam mengucapkan salam. Aku beringsut ke barisan paling belakang supaya orang yang masuk nanti bisa menggunakan sajadah. Tak seperti biasanya, hari ini masih banyak pegawai yang belum pulang. Adanya masalah pengiriman barang ke kantor cabang di Sulawesi Utara membuat si Bos ketar-ketir sehingga kami diminta lembur. Kantor masih ramai.

IMG_8860Satu per satu pegawai beranjak meninggalkan mushola, tapi entah mengapa kali ini ada sesuatu yang menahan diriku untuk menghabiskan waktu lebih lama di sini. Jarang aku berdoa seusai sholat di mushola kantor. Selain karena mushola cukup sempit dan kami harus bergantian, aku merasa jauh lebih pas berdoa di waktu yang lebih lapang dan tempat yang tenang. Tapi memang kuakui, sudah lama aku tidak berdoa. Selain doa standar untuk orang tua, untuk selalu berada dalam lindungan-Nya, selalu diberi kemudahan dalam segala urusan, aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku meminta sesuatu secara spesifik kepada Tuhan. Aku merasa selama ini Dia telah mencukupi segala apa yang kubutuhkan. Aku tidak mau meminta lebih.

Lagi-lagi wajah itu melintas, diikuti dengan akselerasi detak jantung selama beberapa detik lamanya. Setahun terakhir ini wajah itu selalu muncul dalam pikiran di waktu-waktu yang tak terduga. Aku memejamkan mata.

Tuhan, kali ini ijinkan aku akan meminta sesuatu yang lebih egois dari biasanya. Ya, aku menginginkannya, tapi aku sendiri tak yakin apakah dia memang untukku. Satu saat kami begitu dekat hingga membuatku yakin bahwa kami tercipta untuk saling melengkapi, tapi kemudian aku tak yakin lagi karena kami bagaikan dua orang asing. Aku bingung Tuhan. Di saat aku yakin bahwa ikatan kami nyata dan harapan itu tumbuh, ternyata Kau memupuskan keyakinan itu dengan membawanya menjauh. Namun saat kuputuskan bahwa aku tak menginginkannya lagi, Kau justru membawanya mendekat. Sungguh, aku tak tahu apa yang telah Engkau tuliskan dalam buku kehidupan kami, untuk itu aku sungguh-sungguh meminta bantuanMu kali ini.

Aku bukan pujangga yang mampu merangkai kata-kata indah, tapi Engkau Sang Maha Mengetahui dan aku yakin Kau pasti akan memahami apa yang aku pinta, jadi kurasa Kau tak keberatan dengan kalimat pinjaman. Maka kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan kutundukkan hatiku dalam kuasaMu. Ya Tuhan, beri aku petunjukMu. Bila dia memang untukku, maka dekatkanlah. Tapi bila dia bukan untukku, bawalah ia pergi sejauh-jauhnya agar aku tak semakin merana.
Aku tersenyum, tak tahu bagaimana nanti cara Tuhan menjawab doaku dan memberikan petunjukNya.

Pintu mushola berkeriut membuka, dan lelaki dalam doaku masuk.

Advertisements

32 Comments

  1. hihihi…tergelitik juga bacanya….aamiin..insyaallah kalau sudah jodohnya ga akan kemana (eh bener ga nih aku comment nya sesuai topik, takutnya salah tangkap maksud penulis)… 😀

    Kelanjutannya ceritanya …. (kurang lebih)

    Dan laki-laki itu pun berkata … “mba maaf, tadi sandalnya yang mba pake itu sandal saya” … just kidding

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s