Pilih yang Mana?

Sekitar awal bulan di ini, kantor mengadakan sebuah talkshow (kalau bisa disebut talkshow) tentang kesehatan yang dibawakan oleh seorang nutrisionis bernama Emilia Achmadi. Materi yang dibawakan bukan sesuatu yang asing sama sekali bagi kita: makanan yang sehat dan efeknya terhadap kesehatan, bagaimana gaya hidup modern dan kesibukan mengubah apa yang kita makan dan bagaimana kita makan, penyakit-penyakit yang dipicu gaya hidup tidak sehat dan makin menurunnya usia penderita penyakit tersebut.

mericaHal ini membuat saya jadi ingat pada cara makan food combining yang saya kenal melalui twitter, dan sempat saya terapkan selama beberapa waktu yang lalu. Prinsip dasar food combining adalah mengkonsumsi karbohidrat bersama dengan sayur atau protein hewani dengan sayur dan tidak boleh makan karbohidrat bersamaan dengan protein hewani karena akan memperberat kerja sistem pencernaan. Kemudian saya sempat juga mencoba minum smoothies buah dan sayur karena dikatakan bahwa proses memasak bisa merusak/mengurangi zat gizi bahan makanan sehingga disarankan untuk mengkonsumsi bahan mentah. Sempat baca juga tentang dukan diet yang banyak dianut beberapa public figure karena efektif untuk menurunkan berat badan sampai dengan penelitian bahwa susu hewan dikatakan lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya bagi manusia.

Sementara itu dalam talkshow kesehatan ini, narasumber cuma menyampaikan supaya kita membatasi asupan gula juga makanan berlemak/berkolesterol tinggi, banyak minum air putih serta menambah porsi sayuran dan buah-buahan. Makan enak dan tidak sehat boleh tapi jangan sering-sering. Kok sederhana sekali ya dibandingkan berbagai teori diatas? Jadi mana yang benar?

Semakin banyak informasi yang kita ketahui alhasil makin kita bingung, lantaran beberapa diantaranya ada yang saling bertentangan dan masing-masing punya penjelasan logis. Pada akhirnya kita sendiri sih yang memutuskan mana yang paling cocok buat diri kita. Tapi yang paling saya ingat dari perkataan Bu Emilia, sebenarnya kita nggak perlu menerapkan pola makan yang terlalu strict sampai melarang makan ini dan itu secara ekstrim–misalnya hanya makan makanan mentah atau sama sekali tidak mengkonsumsi karbohidrat–karena sebenarnya kita dikaruniai tubuh dan sistem percernaan yang luar biasa, dan bagaimana pun tubuh kita membutuhkan banyak sekali zat–karbo, protein, vitamin, serat, mineral, lemak, dan masih banyak lagi–untuk bisa bekerja dan berfungsi dengan baik.

Advertisements

19 Comments

      1. makan tinggal makan yah mba yg penting kan tubuh kita tahu mana yg pas bwt perut mana yg enggak hahaha lah aku ini tipe makan eh kecuali sayuran!! 😀

        Like

  1. Kalau mendasarkan semuanya kepada Rasul, ya makanlah memang secukupnya dan berhentilah sebelum kenyang. Prinsipnya sederhana, ya jangan terlalu berlebihan, baik ketika makan karbohidrat, dll. 😀

    Memaksakan diet juga kalau kondisi badan tidak mendukung untuk itu, bukannya sehat, malah jadi sekarat. 😛

    Like

  2. Hehmm mungkin mengatur pola makan baru bisa diterapkan oleh orang yang “besok makan apa”, belum bisa untuk orang “besok apa yang dimakan” 🙂
    but, nice infoooo

    Like

  3. saya juga kadang bingung mbak. sebagai mahasiswa yg ngekost dan ga punya dapur, ga banyak makanan sehat yg bisa dipilih

    Like

  4. Baidewei sekarang diriku minum susu, makan karbo bareng protein dan mengatur makanan seperlunya O. Capek euy terlalu ketat gimana gitu, lagian diriku ga tahu dan belom bisa menyaring dan menimbang sebagus para ahli itu..

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s