Suitable

“Makan siang dimana tadi?”
“Biasa lah, gado-gado sebelah kantor, biar bisa cepet baliknya.”
“Sama siapa?”
“Indah doang. Yang lainnya pada nggak bisa diganggu.”
“Akhir tahun, sibuk uber-uber target semua.”
“Tau nggak, tadi kami ngobrolin siapa?”
“Siapa?”
“Kamu dan Rozi, dan chemistry di antara kalian berdua.”
“HEH? Mana ada begitu?”
“Semua orang juga tahu kali, Lin. Kalau kalian berdua ngobrol, dunia serasa jadi milik kalian. Orang-orang di sekitar kalian mendadak lenyap tak berbekas.”
“Hahahahaha.”
“Ih, malah ketawa.”
“Jelas, superficial sekali pengamatan kalian. Lantaran omongan dua orang nyambung aja langsung dianggap ada chemistry. Rozi itu memang pinter ngomong sama semua orang. Coba lah kalian perhatikan kalau dia ngobrol dengan orang lain, pasti begitu juga.”
“Beda Lindiiii… Mana pernah kami ngobrol dengan Rozi sampai seperti itu. Cuma Lindi yang sampai sekarang bisa begitu. Bener-bener deh gelombangnya dirasain orang-orang di sekitar kalian. Gelombang yang kemudian membentuk sebuah gelembung besar yang melingkupi kalian berdua, dan memisahkan kalian dari dunia luar. Orang lain tak bisa menembusnya.”
“Lebay tingkat dewa kalian ini. Rozi itu punya banyak interest dan salah satunya komik. Kebetulan aja komik favorit kami sama. Other than that, we’re so different. Coba kalau dia sudah ngomongin musik, seperti ngobrol sama alien aku ini.”
“Seharusnya kalian jadian.”
—– *Non-committal laugh* —–
“Emangnya kamu nggak pernah kepikiran begitu? Kalian kan lumayan dekat sejak lama.”
“Well, sebagai manusia berperasaan yang anti pada kemunafikan, nggak mungkin gagasan itu nggak pernah terlintas di pikiranku.”
“Jadi tunggu apa lagi kalau begitu?”
“Hubungan kan nggak cuma sekadar nyambungin omongan aja.”
He’s brought you out of your shell. Sejak kenal dan dekat dengan Rozi, Lindi jadi lebih ceria dan bersemangat, jadi lebih terbuka dengan orang lain. He’s the right one for you.”
Maybe he is. But you forget one more thing. Am I the right one for him?

suitable2

Advertisements

20 Comments

  1. ah si Lindi terlalu rendah diri, sayang sekali karena kadang bisa jadi Lindi sangat berarti buat Rozi πŸ™‚
    gimana mau tahu kalau belum dicoba? πŸ˜€

    Like

  2. Iseng-iseng ngintip untuk membunuh keinginan tidur siang…Hehehe..aku suka cerita ini, mirip kisah seorang teman, semoga ga harus dibayar dengan penyesalan untuk menyadarinya πŸ˜‰ they belong to each other (I think).

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s