Book Review: Keberangkatan

Satu-satunya karya Nh. Dini yang pernah saya baca sebelum ini adalah sebuah cerita pendek yang dimuat di buku pelajaran Bahasa Indonesia SMP terbitan Balai Pustaka. Kalau tidak salah, judulnya Warung Bu Sally–CMIIW. Pas jalan-jalan ke Gramedia tempo hari, saya lihat beberapa bukunya dipajang di section Fiksi disamping karya para penulis Indonesia lainnya. Saya pun tertarik dan akhirnya membeli salah satunya: Keberangkatan.

Keberangkatan mencukil sepenggal fragmen dalam kehidupan seorang gadis bernama Elisabet Frissart– seorang gadis keturunan Belanda–yang mengambil setting tahun 1970-an, sesuai dengan waktu pertama kali novel ini diterbitkan. Diceritakan disini, ditengah-tengah meningkatnya semangat anti-asing yang terjadi di Indonesia pada tahun 1970-an, warga keturunan asing yang lama tinggal di Indonesia kembali ke negaranya masing-masing, termasuk di antaranya keluarga Elisa. Walaupun seluruh anggota keluarganya pergi ke Belanda, Elisa memutuskan untuk tetap bertahan di Indonesia. Sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan warga indo, tetapi nyatanya lebih suka bergaul dengan warga pribumi, untuk itu ia tidak ragu-ragu menjalin hubungan dengan seorang pemuda Jawa bernama Sukoharjito. Saat hubungan mereka akhirnya kandas, gadis yang bekerja sebagai pramugari ini dihadapkan pada pilihan untuk tetap bertahan di Indonesia atau meninggalkannya.

Di sini kita juga melihat bagaimana Elisa berusaha mencari tahu tentang masa lalunya, bagaimana ia bertemu kembali dengan kakak perempuannya yang sudah lama pergi, juga usahanya untuk mencari pria yang ia duga sebagai ayah kandungnya. Kita juga melihat bagaimana Elisa berjuang untuk bangkit setelah akhir hubungannya dengan Sukoharjito. Ada satu paragraf yang saya anggap layak dikutip, diucapkan oleh Lansih, sahabat Elisa yang mendampinginya melalui masa-masa sulit.

keberangkatan

“Untuk mati, orang tidak memerlukan kepandaian maupun bakat yang istimewa. Siapa pun dapat mati sewaktu-waktu, dengan cara yang dikehendaki atau dipilihnya. Sebaliknya untuk hidup, orang membutuhkan keberanian, kecakapan yang kadang-kadang luar biasa. Setiap hari banyak orang yang mati, dengan mudah tanpa usaha atau daya upaya. Tetapi setiap hari berjuta-juta orang berjuang dengan susah payah untuk hidup.”

Kehidupan Elisa sebagai pramugari–bagaimana ia bekerja, hidup sebagai anak kos–diceritakan dengan begitu jelas. Membaca Keberangkatan kini, kita seolah naik mesin waktu dan dibawa kembali ke Jakarta tahun 1970an, menyusuri lingkungan kos karyawati di kawasan Rajawali dan Kemayoran, melihat bagaimana muda-mudi jaman itu bergaul. Tetapi saya masih penasaran apakah memang benar di masa itu memang sempat terjadi eksodus warga keturunan dengan adanya gelombang semangat anti-asing, mengingat sekarang sepertinya ekspatriat itu cukup diagung-agungkan dan semakin banyak orang indo menjadi artis, hehehe… Sayangnya saya belum menemukan referensi atas peristiwa tersebut (mungkin searching keyword-nya salah ya?).

Bisa dikatakan bahwa Keberangkatan adalah cerita sederhana yang dibawakan dengan irama pelan yang mengalir lancar, tidak ada yang dibuat-buat maupun dipaksakan dalam kisah ini hingga bagian akhir. Gaya bahasa dan kosakata yang digunakan unik bagi kita yang terbiasa membaca novel kontemporer, membuat kita sadar betapa tata bahasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Bukan tidak mungkin bahasa yang kita gunakan sekarang akan terasa asing 20 tahun lagi. Bagi saya, novel klasik semacam ini tetap memiliki keunikan dan keindahannya sendiri di tengah serbuan novel impor dan karya para penulis modern, laiknya sebuah bangunan kuno yang masih bertahan di sebuah sudut kota yang dipenuhi gedung pencakar langit.

Advertisements

20 Comments

  1. yang petnah baca Pada Sebuah Kapal. baguuus. Oiyes. setelah bukunya Om Pram. sempet tertarik koleksi bukunya beliau ini. tapi belom kesampaian. jadi pengen bacaa.

    Like

    1. Jadi sekarang udah koleksi Pram? Pinjaaaam 😀
      Di bookfair terakhir banyak buku2nya Nh. Dini ini, udah gatel pengen beli tapi masih banyak buku belum kebaca.

      Like

      1. iya mbak

        org sini khan cinta banget baca ya mbak, kalau ada buku menarik dr penulis berbhs asing biasanya dibikin yg cetakan edisi bhs Jerman

        Like

  2. jaman sekolah pernah juga ditugasin bikin resensi novel2 jaman dulu. memang beda sekali bahasanya. semakin jadul bahasanya justru semakin indah.

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s