Book Review: Gege Mengejar Cinta

Ini adalah kali kedua saya membaca novel ini, sebuah novel komedi romance karya Adhitya Mulya. Pertama kali saya pinjam novel ini dari teman baik saya Dewi Puspasari ketika masih kuliah dulu setelah sebelumnya saya diperkenalkan dengan karya dodol penulis kocak ini yakni Jomblo. Terus terang waktu itu saya nggak suka dengan jalan ceritanya dan sampai dengan baru-baru ini yang saya ingat tentang novel ini adalah jalan cerita yang menyedihkan dan bukti betapa egoisnya kaum lelaki. *jeng jeng jeng*

gege

Tokoh utama dari cerita ini adalah seorang ordinary guy bernama Geladi Garnida–disingkat Gege. Saat SMP dia naksir berat dengan seorang gadis rupawan idola semua orang bernama Caca tapi mengingat perbedaan lingkungan pergaulan mereka di sekolah, Caca bahkan sama sekali tidak menyadari keberadaan Gege walaupun sebenarnya mereka bertetangga. Bagai pungguk merindukan bulan adalah pepatah yang sesuai dengan situasi tersebut. Berulang kali Gege menyaksikan Caca gonta ganti pacar dan Gege hanya bisa memandangi dari jauh. Tak lama kemudian, Caca pindah ke luar negeri.

Singkat cerita, Gege beranjak dewasa dan dia bekerja di sebuah stasiun radio. Disana dia ditaksir oleh rekan kerjanya yang bernama Tia. Namun karena gengsinya yang tinggi, Tia tidak melancarkan usaha apa pun untuk menunjukkan perasaannya dan beranggapan bahwa suatu saat nanti Gege akan menyadari hal ini. Wrong! Seseorang dari masa lalu muncul: Caca. Gege yang ternyata masih belum bisa melupakan Caca menganggap hal ini sebagai kesempatan kedua baginya untuk mendapatkan hati Caca. Gayung bersambut dan mereka pun mulai dekat.

Cinta segi tiga, itu adalah kerangka utama dari cerita ini. Siapakah yang akhirnya dipilih Gege? Itu adalah pertanyaan yang dimunculkan di kepala pembaca. Terus terang, pertama kali membaca novel ini saya kecewa sekali dengan pilihan Gege, tapi kali kedua membacanya saya jadi memahami kenapa Gege memutuskan demikian. Saya memahami setiap karakter serta apa yang melatarbelakangi dan menjadi alasan pengambilan keputusan mereka.

Walaupun dibalut dalam kemasan komedi khas Adhitya Mulya yang luar biasa kocak dan banyak sekali ayam yang diabuse di novel ini, banyak hal yang bisa kita ambil dari sini, antara lain perbedaan cara pikir pria dan wanita serta bagaimana mereka memandang suatu hubungan. Di tengah-tengah dialog dan adegan lucu ada selintas kearifan yang tersampaikan. Perasaan kita dijungkirbalikkan berulang-ulang: kasihan pada Gege, sebal pada Caca, optimis pada Gege, suka pada Tia, makin cinta pada Gege, dan akhirnya sebal sendiri dengan Adhitya Mulya-nya. Hahaha… Well, walaupun saya sudah bisa memahami dengan lebih baik, saya masih tetap nggak suka dengan endingnya atas dasar keadilan. Hehehe… Untuk tahu lebih lanjut sebaiknya dibaca sendiri ya? Selamat membaca…

Advertisements

8 Comments

  1. wha, ini novel pertama yang tak baca sampai habis nih. Maklum gak suka baca.
    Kocak Habis, endingnya keren kok.
    Sayangnya setelah GMC, gak nendang lagi novel2 aditya mulya,

    Like

    1. aku gak terlalu ngikutin ini adhitya mulya jadi kurang tau novelnya yang lain. Pernah sekali baca Traveler’s Tale, kurang bagus mmg kalau dibandingin buku2 sebelumnya…

      Like

  2. saya belum pernah baca mbak, dan belum pernah baca bukunya Aditya Mulya ini tapi follow twitternya sih hehe.. *nggak ngaruh ya 😆

    Like

    1. cekakakak… yaaa, boleh lah boleeh.
      aku nggak tau sekarang masih ada dijual apa nggak ya, soalnya udah lama banget buku ini terbitnya 😀

      Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s