En Una Mañana…

Ia sama sekali tak menyadari aku sudah berada di ambang pintu sejak lima menit yang lalu. Sengaja kubiarkan diriku tidak bersuara–berdehem atau bahkan menghela nafas terlalu keras–sementara aku memperhatikan dirinya. Bagaikan seorang penari, ia dengan gesit bergerak di ruang kecil itu untuk mengambil penggorengan, kemudian meletakkannya di atas tungku. Kakinya menutup pintu kulkas setelah ia mengambil dua butir telur sembari meraup bumbu dapur di atas lemari.

Menyenandungkan nada sumbang yang kemudian kukenali sebagai lagu yang belakangan ini populer di radio, ia mencacah bawang dan menyalakan kompor. Mulutku gatal ingin membetulkan nada suaranya yang tanpa aba-aba meninggi di tempat yang salah, tapi aku terlalu terpana melihatnya yang tiba-tiba saja sudah menuangkan telur beserta bumbu-bumbunya ke dalam penggorengan. Aku bahkan tidak melihatnya memecahkan telur! Keahliannya di dapur memang tak diragukan lagi. Sedangkan aku? Merebus air pun aku gagal… *keluh*

Cincin yang melingkar di jarinya berkilau memantulkan sinar matahari yang menerobos dari kaca jendela saat ia mengangkat tangan untuk menggaruk pelipisnya. Senyum miring terulas di bibirku. Mine. Para Siempre.

Aroma harum omelet dan kopi diseduh memenuhi ruangan, menerbitkan air liur sekaligus asam lambung. Seolah ada yang menekan tombol, perutku yang kosong sejak semalam langsung berbunyi keras.

Don’t think I don’t know you’ve been standing there smiling like a lunatic. I can literally hear your stomach roars,” ucapnya dari balik punggung.

Sial.

Breakfast’s ready, better eat now while it’s hot.” Aku pun mendekat, menarik kursi yang membelakangi jendela, my favorite spot. Ia pun berbalik, senyumnya mengembang, menampilkan lesung pipi tak simetris dan deretan gigi paling rapi di dunia–one of many reasons why I fell. Rambut ikalnya mulai kepanjangan, tapi aku tak keberatan… “Coffee?” tanyanya sembari meletakkan cangkir bermotif totol-totol di hadapanku.

“Kopi?”

“Hmmm…”

FOR GODSAKE, NOT AGAIN! WAKE UUUUUUP…

Aku terlonjak dari kursi yang kududuki, pipiku terasa seperti disengat kena senggol teko berisi kopi panas. Kurang ajar sekali si Jamie ini, untung isi tekonya tidak sampai tumpah dan menimbulkan korban. Sambil mengusap-usap pipi dan memonyongkan bibir, aku melempar tatapan paling mematikan ke arahnya.

Gather some nerve and talk to him. You’ve been mooning over him for over a month and I’m getting sick of it.”

Aku melirik ke arah manusia yang menjadi obyek pembicaraan kami. Duduk di sudut ruangan sambil membaca sebuah buku bersampul biru, ia tampak santai sambil sesekali menyesap kopinya. Well, memang rambutnya sudah mulai kepanjangan. Jantungku mencelos, kemudian meleleh di bawah kursi. “No way Jamie, no way.

PS: This story is inspired by Train’s song titled Marry Me, it is supposed to be finished an hour ago and submitted for a flash fiction contest. I failed the time limit 🙂

Advertisements

4 Comments

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s