Thanking for What We Have

Dulu jaman masih sekolah, saya langganan majalah anak-anak namanya Mentari Putera Harapan (terbit dua kali sebulan, hanya 800 rupiah per eksemplar. Hahaha. Entah masih ada atau tidak majalan anak-anak ini sekarang).
Anyways, salah satu rubrik favorit yang pasti ada dalam setiap majalah anak dan porsinya luar biasa besar adalah tak lain tak bukan: cerita.

Salah satu cerita yang belakangan kuingat lagi adalah tentang seorang petani miskin yang punya anak banyak. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil dan juga harus hidup bersama kedua orang tua serta mertuanya. Tak bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya gubuk mereka.

Suatu hari, si petani tak tahan lagi dengan keadaan rumahnya dan mengadu pada seorang bijak di desanya. Ia ingin pergi meninggalkan keluarganya karena tidak ingin hidup di tengah-tengah hiruk pikuk banyak orang.

Si orang bijak menasihatinya supaya bersabar dan sebelum si petani benar-benar pergi, ia harus melakukan hal ini terlebih dulu: memasukkan ayam-ayam peliharannya ke dalam rumah selama seminggu. Si petani menuruti saran si orang bijak. Satu minggu kemudian si petani mengadu kalau keadaan rumahnya makin buruk. Si orang bijak menyuruhnya untuk memasukkan kambing-kambing peliharaan si petani ke dalam rumah. Si petani pun menuruti. Begitu seterusnya, si orang bijak menyuruhnya memasukkan seluruh hewan ternaknya ke dalam rumah. Bukannya membaik, keadaan rumahnya justru makin kacau balau.

Di tengah kegalauannya, akhirnya si orang bijak menyuruhnya untuk mengeluarkan ayam-ayamnya dari rumah dan mengembalikannya ke kandang. Si petani berkata bahwa keadaan rumahnya agak membaik. Berikutnya si petani diminta untuk menempatkan hewan-hewan peliharaannya yang lain kembali ke dalam kandang.

Apa kata si petani pada si orang bijak? Rumahnya terasa begitu besar dan lapang. Ia pun kembali bahagia bersama keluarganya.

Banyak kesimpulan dan petuah yang bisa kita ambil dari kisah sederhana ini. Apakah? Jual saja ternaknya dan beli rumah yang lebih besar. Hahahaha… #gagal #dikeplak.
Bahwa kadang kita mengeluh dan tidak bersyukur dengan apa yang kita miliki, bahwa kita selama ini terlampau fokus pada masalah yang kita hadapi dan membuat kita tidak bahagia.

Haruskah kita dibuat menderita dulu oleh Tuhan untuk bisa membuka mata terhadap hal-hal yang sudah kita punyai?

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s