Pertanyaan Untukmu

Mengantar kawan yang hendak membeli kain kebaya, siang ini aku dan beberapa orang kawan lain pergi ke pasar Mayestik. Dengar-dengar, disana banyak sekali toko kain. Sebelumnya, selain Pasar Baru, aku nggak tahu lagi dimana tempat lain di Jakarta ini yang bisa dituju untuk membeli kain bagus.

Baru tahu juga kalau ternyata Mayestik terletak di kawasan Kebayoran Baru, dan untuk menuju kesana, harus melewati beberapa ruas jalan yang rentan macet. Well, tapi dipikir lagi hampir semua tempat di Jakarta seperti itu kondisinya.

Btw busway, setelah muter-muter–melewati jalan yang kalau sekarang aku disuruh untuk mengulang rutenya, sepertinya malah bakal nyasar sampai Ragunan–akhirnya sampailah kami di tempat tujuan.

Sama sekali nggak kepikiran sebelumnya kalau pasar ini bakal ramai dan padat. Bukan orang,melainkan kendaraan. Mulai dari pintu masuk parkir, kendaraan sudah merambat. Agak sangsi juga untuk bisa dapat tempat parkir di sini. Kanan kiri sudah tidak ada tempat kosong. Ditambah lagi laju kendaraan sangat lambat. Entah sampai kapan kami akan ada di posisi ini.

Begitu melewati tukang parkir, kami bertanya ada tempat parkir tidak? Di luar dugaan, si tukang parkir menjawab: “Mau saya carikan tempat? Kalau beneran mau bisa saya carikan. Sekalian sebentar lagi jam saya pulang.”

Kami yang di dalam mobil saling berpandangan dengan jawaban yang kedengaran janggal itu. Apalagi tengok kanan kiri sepertinya lahan parkir sudah penuh.

Kemudian kami melihat si tukang parkir bicara dengan tukang cendol di depan sebuah toko. Si tukang cendol pun meminggirkan gerobaknya, dan voila! ada space untuk menampung satu mobil. Tidak perlu menunggu atau antri lama, tempat parkir sudah tersedia. Uang sepuluh ribu pun berpindah tangan.

What do you think?
Dari sudut pandang mana kamu akan melihat dan menilai kejadian tadi?

Aku jadi berpikir: ternyata korupsi/kolusi–bila memang bisa diberi istilah demikian–sudah terjadi dimana-mana. Mungkin juga–semoga dugaanku salah–hal itu sudah dianggap sebagai salah satu metode survival.

Kondisi keuangan yang tidak memadai, mendesak seseorang untuk “mencari jalan lain.” Tapi, hal ini juga didukung oleh kondisi yang ada. Seandainya lahan parkir tersedia luas, pasti “jasa” tukang parkir semacam ini pun tidak laku.

Mungkin nilainya tidak seberapa dibandingkan anggaran belanja kita atau rupiah yang harus kita bayar untuk makan siang, tapi hal ini tidak bisa dibenarkan ataupun diteruskan.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s