Jepret

Jaman sekarang, kayaknya gak ada orang yang gak punya kamera. Mulai dari kamera DSLR super mahal sampai dengan kamera handphone. Memotret pun jadi kegiatan yang gampang sekali dilakukan–dimana pun, kapan pun. Ditambah lagi, populernya social network yang makin mempermudah sharing informasi–termasuk foto, membuat orang makin getol untuk mengabadikan momen-momen (yang dianggap) istimewa.

Tukang foto keliling–di tengah society pemilik kamera–rupanya masih eksis, walaupun mulai jarang ditemukan. Mereka menawarkan jasanya bagi para pengunjung tempat rekreasi dengan bekal kamera pocket dan printer portabel yang menjanjikan cetak foto langsung jadi dalam hitungan kurang dari sepuluh menit. Dengan membandrol harga 20 ribu sekali jepret dan cetak per lembar, mereka sabar menunggu orang-orang yang ingin diambil gambarnya.

Salah satunya seorang bapak tua di pantai Ancol (too bad I forgot to ask his name), yang mengatakan dirinya mulai jadi tukang foto sejak tahun 1974, awalnya menggunakan kamera polaroid. Miris juga melihatnya. Dalam sehari mungkin tidak banyak orang yang menggunakan jasanya, apalagi tukang foto langsung jadi seperti dia jumlahnya tidak sedikit. Dengan perkembangan teknologi dan sosial yang ada, entah sampai berapa lama profesi ini akan bertahan…

Posted from WordPress for Android

Advertisements

5 Comments

  1. sedih juga bayangin nasib bapak itu dan para tukang poto lainnya ya. Tapi mau begimana lagi ya. Kalau dikembalikan ke diri sendiri kok rasanya sayang juga ya bayar poto. Sorry to say but life goes on. *kejam

    Like

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s