The Power of Warteg

Dulu sempat gak paham kenapa ada orang yang jual makanan dengan konsep warung tegal a.k.a Warteg. Apa istimewanya? Kenapa pula ada orang yang mau beli makanan di warteg? Kalau beli makanan kenapa bukan ke tukang bakso, bakmi, soto, sate dan sebagainya gitu–pokoknya jenis masakan yang di rumah jarang kita temukan (di atas meja makan tentunya, bukan di bawah kolong atau di balik pintu *apasehh*).

Itu duluuu… jaman jadi anak rumahan baik-baik nan polos dan lugu, yang hidup tinggal bersama kedua orang tua, makanan terjamin, sampe-sampe jarang banget jajan (istilah kerennya sekarang wisata kuliner). Tanya aja tempat-tempat wiskul populer di Surabaya, pasti aku gak tau! *bangga tidak pada tempatnya*

Tapi sekarang, apa yang terjadi??? *play: iringan biola meyayat hati*. Sebagai anak kos yang miskin waktu karena sok sibuk dan miskin ruang (yaaa, secara kos luasnya paling mentok segitu-gitu aja), seringnya impossible untuk memasak makanan sendiri. Alhasil ya harus beli makanan jadi. Banyak pilihan sebenarnya, apalagi di Jakarta ini, melting pot Indonesia–mau makan apa aja ada. Ditambah lagi kawan-kawan kantor pada suka makan di luar dan tahu banyak tempat makan enak di mana-mana, gak kayak saya. Hiks. *sedot ingus*
Jadi ya begitulah, di Jakarta ini saya diberi banyak sekali kesempatan untuk mencicipi aneka masakan, mulai dari mi aceh, berbagai olahan bebek (di Surabaya tahunya bebek cuma digoreng & disambelin) sampai aneka olahan iga bakar/goreng ala Makassar. Nyam nyam.

Oke, makanan-masakan semacam itu enak sih, tapi menurutku bukan makanan yang seharusnya dikonsumsi tiap hari. Here are the reasons:
1. Harganya lumayan pricey. Bagi yang masih single mungkin gpp, tapi buat yang sudah beranak istri mungkin kurang disarankan 😀
2. Lemak dan Kolesterol. Kebanyakan menu yang ditawarkan adalah produk hewani yang tinggi lemak dan kolesterol, jadi kurang baik untuk kesehatan.
3. Bosan gak sih kalau tiap hari makan ayaaam, dagiiiiing, ikaaaaan, dan sejenisnya ini? Walaupun rasanya lezat, tapi kesannya ‘berat’. I don’t know about you, tapi aku jenis orang yang kadang ingin makan masakan yang simpel gak neko-neko. Tahu, tempe, telor dadar, sayur bayam, ikan asin, dan sambal terasi.

Kemudian di kejauhan, kulihat secercah cahaya lampu petromax di depan sebuah rumah kecil berjendela kaca lebar, samar-samar kubaca tulisan “Warung Nasi Sederhana.”…

Yep. Warteg. Dengan menu-menu rumahan yang familiar, berbagai pilihan sayuran, dan lauk yang walaupun tidak eksotis, tapi mampu membangkitkan kenangan akan rumah, dan masa kecil nan bahagia… (okay, lebaynya mulai kelewatan *keplak*).

I don’t think I need to explain further, I know you understand what I’m trying to say here 🙂
Demikianlah postingan kali ini tentang kekuatan Warung Tegal.

image

PS: harganya juga super murah! 😀

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Got something to say?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s